Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terdampak Wabah PMK, Harga Sapi Kurban Dipastikan Naik!

Pedagang hewan kurban menyampaikan adanya kenaikan harga akibat keterbatasan stok yang tersedia sebagai dampak dari PMK.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 09 Juni 2022  |  15:48 WIB
Terdampak Wabah PMK, Harga Sapi Kurban Dipastikan Naik!
Petugas Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan memeriksa Kesehatan hewan kurban yang dijual di kawasan Jakarta Selatan, Senin (20/8). Pemeriksaan kesehatan itu untuk memastikan seluruh hewan kurban yang dijual oleh pedagang tersebut layak dijual dan dikonsumsi masyarakat. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pedagang hewan kurban memastikan bahwa tahun ini harga hewan kurban akan naik sekitar 10 persen akibat terdampak wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menghambat ketersediaan stok.

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Nanang Purus Subendro menyampaikan saat ini harga sudah naik di angka rata-rata Rp72.000 per kilogram.

“Ini jelas ada kenaikan harga dibanding tahun lalu sekitar 10 persen. Gambarannya kalau tahun lalu sekitar Rp62.000 – Rp63.000 per kilogram rata-rata. Sekarang sudah diangkat Rp72.000 per kilonya,” ujar Nanang, Kamis (9/6/2022).

Nanang menyampaikan ukuran sapi yang diminati untuk kurban dengan berat rata-rata 300 kilogram. Bila mengalikan dengan harga per kilogram, setidaknya tahun ini harga sapi kurban tersebut sebesar Rp21.600.000 per ekor. Sementara tahun lalu harga sapi kurban hanya sekitar Rp18.600.000 per ekornya. 

Jawa Timur yang menjadi pemasok sapi hidup untuk kurban paling terdampak wabah PMK hingga menyebabkan terganggunya pasokan. Nanang mengatakan saat ini sapi yang diterima hanya dari daerah bebas PMK, yakni Nusa Tenggara Barat (Bima) dan Bali yang ukurannya terbilang kecil.

“Jawa Timur pemasok sapi terbesar di Indonesia, ketika terjadi wabah, tidak ada pasokan dari Jawa Timur. Sehingga pasokan sangat terbatas, sangat kurang dari semestinya ini yang menyebabkan harganya terpaksa harus naik,” ujar Nanang.

Hingga 6 Juni 2022, Kementan mencatat dari 163 kabupaten/kota yang terpapar PMK, terdapat 81.880 ekor sapi yang positif, 524 ekor mati, 28.538 sapi sembuh, 607 ekor dilakukan pemotongan bersyarat, dan 52.211 ekor yang belum sembuh.

Jawa Timur sendiri tercatat pada periode yang sama sebagai provinsi dengan kasus terbanyak, yaitu 29.590 ekor dengan total kematian 167 ekor.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian tengah berusaha mendatangkan vaksin darurat untuk mengatasi wabah ini. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) melaporkan setidaknya ada 4 negara yang akan membantu dalam vaksinasi hewan ternak.

“Yang pertama, untuk vaksin darurat sebesar 3 juta dosis yang bersumber dari APBN PKH asal vaksin dari Prancis estimasi kedatangan minggu kedua Juni 2022,” ujar Nasrullah dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi IV DPR RI bersama Eselon I Kementan, Rabu (8/6/2022).

Kemudian dari mitra, yaitu FAO akan datang pada 12 Juni 2022. Kerja sama Australia sebanyak 500.000 sampai 1 juta, Brasil 100.000 sampai 1 juta, dan Selandia Baru sebanyak 100.000 dosis yang akan masuk 1 Juli 2022. 

Sebelumnya Kementan sendiri mengaku optimistis jika saat ini kebutuhan hewan kurban tercukupi. Stok ternak ruminansia secara nasional disebut sangat mencukupi. 

“Mengacu pada data nasional tahun lalu, populasi sapi potong mencapai 18 juta, kerbau 1,2 juta, kambing 19,2 juta, dan domba 17,9 juta ekor,” kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Kamis (2/6/2022). 

Meski mencukupi, lalu lintas ternak dan adanya proses karantina tentu menghambat ketersediaan stok terutama di kota-kota besar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ternak pmk hewan kurban Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top