Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

MIND ID Berencana Bikin Indeks Pasar Nikel, Bauksit dan Timah

Mining Industry Indonesia atau MIND ID berencana untuk menetapkan indeks harga bauksit, nikel dan timah agar lepas dari spekulasi harga di bursa berjangka dunia seperti London Metal Exchange (LME).
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 25 Mei 2022  |  23:44 WIB
Kegiatan operasional pertambangan anggota MIND ID. - mind.id
Kegiatan operasional pertambangan anggota MIND ID. - mind.id

Bisnis.com, JAKARTA — Mining Industry Indonesia atau MIND ID berencana untuk menetapkan indeks harga bauksit, nikel dan timah agar lepas dari spekulasi harga di bursa berjangka dunia seperti London Metal Exchange (LME).

Direktur Utama MIND ID Hendi Prio Santoso mengatakan penetapan ketiga hasil tambang mineral itu sebagai komoditas nasional bakal memberikan posisi yang strategis bagi Indonesia sebagai penentu harga di pasar dunia. Dengan demikian, Hendi mengatakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) perlu mengatur ulang kebijakan soal rencana kerja dan anggaran belanja (RKAB) ketiga komoditas tersebut.

“RKAB-nya ini harus bisa diatur juga. Artinya jangan pasokan dan permintaan sampai terugikan karena kita banjiri sendiri dengan pasar yang tidak terkontrol,” kata Hendi saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Rabu (25/5/2022).

Ihwal pengendalian pasokan itu, Hendi juga mengatakan, pemerintah perlu mengatur kegiatan ekspor ketiga hasil tambang mineral itu untuk mengendalikan harga di pasar dunia. Carannya, dia mengatakan, pintu ekspor mesti dibatasi pada sejumlah perusahaan besar untuk mengatur volume pasokan di pasar dunia.

“Kami berharap PT Timah, Antam dan nanti perusahaan tambang lainnya dapat dijadikan sebagai wakil negara melakukan satu pintu ekspor sehingga volume dan harganya dapat kita tetapkan secara optimal,” kata dia.

Adapun rencana untuk menetapkan sendiri indeks harga bauksit, nikel dan timah berasal dari jumlah produksi dan cadangan mineral domestik yang melimpah jika dibandingkan dengan pasokan dari negara lain. Di sisi lain, menurut dia, indeks harga yang berasal dari LME cenderung digerakkan oleh trader yang tidak memiliki barang fisik.

“LME itu aktivitasnya masih terpengaruh para trader di mana kebanyakan mereka tidak punya volume fisik tapi mereka hanya punya paper atau derivatives, dari sana kami sedang berkolaborasi dengan PT Timah ingin mengajukan Timah, NIkel dan Bauksit sebagai komoditas nasional,” tuturnya.

Di sisi lain, emiten BUMN pertambangan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) melanjutkan proyek penghiliran produk tambang, seiring dengan pertumbuhan pendapatan dan laba pada kuartal I/2022 di tengah kinerja positif bisnis emas, nikel, dan aluminium.

Volume produksi emas dari tambang Pongkor dan Cibaliung mencapai 370 kilogram (11.896 troy oz) pada kuartal I/2022. Volume tersebut naik 28 persen dibandingkan dengan produksi pada kuartal I/2021 sebesar 290 kg (9.323 troy oz).

Produksi feronikel ANTM pada kuartal I/2022 mencapai 5.681 ton nikel dalam feronikel (TNi) dengan penjualan mencapai 5.660 TNi. Sementara itu, produksi bijih nikel sebagai bahan baku feronikel mencapai 2,92 juta wet metric ton (wmt), naik 11 persen dibandingkan dengan kuartal I/2021 sebesar 2,64 juta wmt.

Untuk bauksit, ANTM membukukan produksi sebesar 469.332 wmt dengan volume penjualan 102.373 wmt. Adapun volume produksi produk alumina pada periode ini mencapai 33.830 ton atau tumbuh 121 persen dari produksi kuartal I/2021 sebesar 15.315 ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertambangan bauksit Nikel MIND ID
Editor : Pandu Gumilar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top