Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Manufaktur Indonesia Riskan Ditinggal Investor Jepang, Kenapa?

Tren pulang kampung pemain manufaktur Jepang di luar negeri tak terlepas kemungkinan bisa terjadi di Tanah Air.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 19 Mei 2022  |  12:15 WIB
Manufaktur Indonesia Riskan Ditinggal Investor Jepang, Kenapa?
Pengunjung melihat mobil yang dipamerkan pada Indonesia International Motor Show (IIMS) 2017 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (28/4). Ajang pameran industri otomotif yang berlangsung pada 27 April-7 Mei 2017 ini menargetkan nilai transaksi sebesar Rp3,1 triliun. ANTARA FOTO - Zarqoni Maksum

Bisnis.com, JAKARTA – Manufaktur Tanah Air menghadapi risiko tergerusnya investasi dari Jepang. Sentimen global yang melanda Negeri Sakura seperti kelemahan yen terhadap dolar Amerika Serikat dan masalah geopolitik menjadi penyebabnya.

Operasi manufaktur Jepang diperkirakan pulang kampung lantaran pelemahan yen sejak awal 2022 hingga 11 persen, gangguan rantai pasok global, kenaikan gaji di luar negeri, hingga tekanan geopolitik.

Seperti diberitakan Bisnis, Senin (16/5/2022, sejumlah pabrikan yang akan memindahkan operasi diantaranya dari sektor komponen otomotif, elektronik, dan kosmetik.

Bahkan, Direktur Pelaksana Tokyo Steel Manufacturing Co., Kiyoshi Imamura sebelumnya mengatakan perusahaan Jepang sudah mulai keluar dari China, Asia Tenggara, dan Rusia.

Menurut Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal, tren pulang kampung pemain manufaktur Jepang juga memiliki kemungkinan terjadi di Tanah Air. Sebab, ujarnya, investor Jepang sudah memiliki catatan terkait dengan iklim investasi Indonesia.

"Jepang punya beberapa catatan terkait iklim investasi Indonesia. Seperti, logistik mahal, masalah perburuhan, hambatan perdagangan nontarif, dan ketidakjelasan peraturan. Itu akan menjadi evaluasi investor Jepang," ujarnya ketika dihubungi, Kamis (19/5/2022).

Faisal menilai sejumlah sektor manufaktur Indonesia yang berpotensi ditinggal oleh investor Jepang adalah elektronika dengan investasi yang cenderung stagnan, dan tekstil yang menurutnya justru mengalami kontraksi.

Saat ini, sambungnya, porsi terbesar investasi Jepang di Indonesia ada di manufaktur otomotif. Sebanyak 98 persen produksi mobil di Indonesia merupakan hasil dari manufaktur Jepang.

"Namun, untuk sektor manufaktur lain sudah tersalip China. Pemerintah mesti memerhatikan catatan dari investor Jepang. Jika tidak direspons, kemungkinan Jepang hengkang sebagai investor utama manufaktur RI kian besar," kata Faisal.

Sementara itu, sektor otomotif yang notabene ciri khas investasi Jepang di Indonesia dinilai masih cukup menjanjikan meskipun perlu upaya lebih untuk mendorong ekspor karena pasar domestik sedang mengalami kejenuhan.

Kendati demikian, potensi berkurangnya nilai investasi Jepang di sektor manufaktur diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Terutama, di sepanjang tahun ini yang dinilai masih akan menanjak karena Jepang mulai melirik peluang di sektor nikel serta pemulihan ekonomi RI yang terus membaik.

Sebagai informasi, data BKPM menunjukkan investasi Jepang di Indonesia pada kuartal I/2022 senilai US$825,3 juta. Lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dengan nilai investasi US$509,7 juta.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), investasi Jepang di Tanah Air tercatat terus bergerak positif. Naik dari Us$322,7 juta menjadi US$825,3 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang investasi manufaktur
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top