Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kelangkaan Solar Subsidi Jegal Angkutan Logistik Jelang Lebaran

Pertamina sebelumnya mengungkapkan kelangkaan solar terjadi akibat kenaikan konsumsi di tengah masyarakat. Hingga Februari 2022, Pertamina menyebut konsumsi solar sudah 10 persen di atas dari kuota pemerintah.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 28 Maret 2022  |  17:32 WIB
Kelangkaan Solar Subsidi Jegal Angkutan Logistik Jelang Lebaran
Mobil sarat muatan barang kebutuhan pokok memasuki kapal penyeberangan KMP Tanjung Burang di pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, Senin (19/6). - Antara/Ampelsa

Bisnis.com, JAKARTA- Jelang Ramadan dan Idulfitri, risiko kelangkaan solar subsidi yang terjadi di sejumlah daerah diprakirakan bisa berdampak kepada angkutan logistik. Apalagi, pelaku logistik menyebut volume pengiriman barang akan sangat meningkat sekitar dua pekan pertama Ramadan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan mengatakan kelangkaan solar subsidi di beberapa daerah menyebabkan proses pengiriman barang tertunda. Padahal, menurutnya volume kegiatan logistik biasanya tumbuh 20 persen lebih tinggi pada saat Ramadan maupun seperti hari-hari besar lainnya.

Oleh sebab itu, dampak kelangkaan solar subsidi di beberapa wilayah di Tanah Air terhadap logistik dinilai bisa menghambat kegiatan produksi, terutama ketika permintaan tinggi jelang hari besar.

"Semua akan rugi. Jadi kerugian akibat keterlambatan pengiriman barang ini terutama kepada pabrik atau pengguna jasa. [Awalnya] yang sudah dijanjikan rencana tiba hari ini tapi tidak bisa, tentu mengakibatkan keterlambatan produksi," ujarnya, Senin (28/3/2022).

Gemilang menuturkan bahwa pemerintah dan Pertamina harus lebih jelas dalam mengatur siapa penerima subsidi solar, agar menghindari terjadinya kelangkaan seperti yang terjadi saat ini.

Wakil Ketua Aptrindo Jawa Tengah & DIY Bambang Widjanarko lalu menyebut kelangkaan yang awalnya terjadi di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, kini sudah merambat ke Jawa. Bambang mengatakan kelangkaan terjadi paling kentara di bagian Timur pulau Jawa di mana terjadi antrean panjang biosolar, sehingga sering mengakibatkan kemacetan di jalan serta keterlambatan aktivitas pengiriman barang.

"Jika kenyataan di lapangan ada kekurangan pasokan Biosolar, berarti kan ada sistem yang salah dalam pendistribusiannya. Nah kenapa pula selalu ada kesalahan dan pembelaan seperti ini terulang dari waktu ke waktu, seolah tidak ada upaya untuk memperbaikinya," ujar Bambang melalui keterangan resminya, Senin (25/3/2022).

Dampaknya ke armada truk, ujar Bambang, yakni kesulitan jika pembelian biosolar dibatasi, karena jarak tempuh truk kebanyakan adalah antarkota antarprovinsi (AKAP) atau bahkan antarpulau.

Menurutnya, kelangkaan menyebabkan SPBU sebagai pelaksana penjualan terpaksa harus sering mendapatkan komplain dan caci maki dari para pembeli yang tidak puas dengan adanya pembatasan penjualan biosolar, yang terpaksa diterapkan agar menciptakan keadilan sosial bagi seluruh pembelinya.

"Jika stok memenuhi, mengapa harus selalu terjadi kekisruhan dan ada pembatasan penjualan Biosolar...? Keterangan BPH MIGAS bahwa stok Biosolar sebenarnya cukup untuk 21 hari kedepan sebenarnya sangat menyakitkan bagi orang yang sedang kesulitan mengantre, jika ada barangnya mengapa harus ditimbun dan tidak dijual?" tuturnya.

Sebelumnya, Pulau Jawa dikabarkan mulai mengalami kelangkaan solar di Gresik dan Sukabumi, menyusul daerah di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

Pertamina sebelumnya mengungkapkan kelangkaan solar terjadi akibat kenaikan konsumsi di tengah masyarakat. Hingga Februari 2022, Pertamina menyebut konsumsi solar sudah 10 persen di atas dari kuota pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

solar Ramadan angkutan logistik
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top