Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Xi Jinping Tekankan Ancaman Rantai Pasok Global dan Inflasi di WEF

Setelah dirilisnya data pertumbuhan ekonomi negara yang melemah di kuartal IV/2021 sebesar 4 persen kemarin, Xi Jinping masih bersikukuh perekonomian China tetap tangguh.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 18 Januari 2022  |  15:20 WIB
Presiden China Xi Jinping melambaikan tangan di Beijing, China, 1 Juli 2021. China akan menyumbang dua miliar dosis vaksin dan 100 juta dolar untuk membantu negara-negara berkembang. - Antara/Reuters
Presiden China Xi Jinping melambaikan tangan di Beijing, China, 1 Juli 2021. China akan menyumbang dua miliar dosis vaksin dan 100 juta dolar untuk membantu negara-negara berkembang. - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden China Xi Jinping menyerukan kepada dunia untuk mengamankan rantai pasok global dan mencegah lonjakan inflasi. Pada saat yang sama, Xi tengah mengincar masa jabatan ketiga, sesuatu yang menyalahi preseden.

"Kita perlu menyelesaikan berbagai risiko dan mempromosikan pemulihan ekonomi dunia yang stabil," kata Xi di World Economic Forum (WEF) melalui tautan video pada Senin, ketiga kalinya pemimpin China itu berpidato di acara tersebut, dilansir Bloomberg pada Selasa (18/1/2022), 

Dia mengatakan industri global dan rantai pasok telah terdisrupsi. Harga komoditas yang terus menanjak dan suplai energi yang ketat akan memperbesar ketidakpastian pemulihan ekonomi. 

Kelangkaan energi di perbatasan China seperti Kazakhstan telah melibatkan Rusia dalam menghancurkan pemberontakan publik awal pada bulan ini. Hal ini mengakibatkan gangguan risiko rantai pasokan ke pintu belakang Beijing.

Xi tengah berupaya meredam ketidakstabilan ekonomi dan diplomatik saat dirinya bersiap untuk mempertahankan kekuasaan di kongres kepemimpinan Partai Komunis pada paruh kedua tahun ini.

Di samping itu, Xi juga memperingatkan tekanan inflasi global dan dampaknya pada harga yang semakin tinggi. 

"Jika ekonomi negara maju mengerem atau mengambil jalur putar balik pada kebijakan moneter, maka akan ada perembetan negatif yang serius. Mereka akan menghadirkan tantangan ekonomi global dan tabulitas keuangan, sementara negara berkembang akan menanggung bebannya," ungkap Xi. 

Setelah dirilisnya data pertumbuhan ekonomi negara yang melemah di kuartal IV/2021 sebesar 4 persen kemarin, Xi masih menyebut perekonomian China tetap tangguh dan memiliki prospek yang positif ke depannya.  

"Sementara dia menggembar-gemborkan pertumbuhan ekonomi China, dan memang pertumbuhannya lebih dari 8 persen tahun lalu [full year], pertumbuhan itu melambat dan tantangan ekonominya nyata bagi China,” katanya Angela Mancini, mitra Control Risks Group Pte., di Singapura. 

Ditambah lagi, China juga menghadapi tantangan demografis dan masih mendorong kebijakan nol-Covid yang memicu pembatasan kegiatan masyarakat.

Dibandingkan dengan tahun lalu, Xi menggunakan kesempatan pidato di acara WEF untuk menyerukan kepada negara-negara agar menghindari mentalitas Perang Dingin yang ketinggalan zaman, sebuah isyarat bahwa China akan memilih jalannya sendiri meski dihujani kritik dari Barat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi china ekonomi china
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top