Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rencana Tarif KRL Naik, Ini Perbandingan dengan Negara Tetangga

Pemerintah berencana menaikkan tarif KRL 25 km pertama dari Rp3.000 menjadi Rp5.000.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 17 Januari 2022  |  05:17 WIB
Rangkaian kereta rel listrik (KRL) melintas di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Minggu (19/4/2020).  - Bisnis/Arief Hermawan P
Rangkaian kereta rel listrik (KRL) melintas di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Minggu (19/4/2020). - Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Tarif layanan kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek saat ini yaitu Rp3.000 untuk 25 km pertama masih lebih murah bila dibandingkan dengan tarif parkir di stasiun baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Deddy Herlambang mengatakan rata-rata tarif parkir motor di stasiun adalah Rp5.000-Rp6.000 dan Rp9.000-Rp20.000 untuk mobil.

"Sangat kontras dengan tarif KRL yang hanya Rp3.000. Jadi biaya KRL Rp3.000 tersebut bila dibandingkan oleh biaya parkir pengguna KRL di stasiun-stasiun masih lebih murah," ujarnya, Minggu (16/1/2022).

Bahkan kata Deddy, biaya transportasi first mile dan last mile di Jabodetabek sangat mahal daripada tarif KRL itu sendiri. Belanja transportasi harian tersebut belum dibandingkan dengan pengguna paratransit ojek online di stasuin KRL, yang tentunya tarifnya terpaut jauh bila dibandingkan dengan tarif KRL.

Lebih lanjut menurutnya, bila dibandingkan dengan angkutan massal berbasis rel ke negeri tetangga, tarif KRL Indonesia masih termurah dengan hanya Rp3.000.

"Di negara lain bila dirupiahkan, MTR Bangkok Metro Rp15.851, Singapore MRT Rp8.043, India Delhi/Mumbai/Chenai Metro Rp7.225, India Kolkota Metro Rp3.612, Taipei MRT Rp4.186, Hongkong MTR Rp5.638 dan negara lainnya berdasarkan konversi Bank Dunia tahun 2019," terang Deddy.

Bukan hanya dengan luar negeri, dia menyebut tarif KRL Jabodetabek dibanding dengan moda transportasi darat perkotaan lain di dalam negeri juga terbilang lebih murah.

Misalnya, sambung Deddy, MRT Jakarta ( Lebak bulus – HI ) untuk 16 km dikenakan tarif Rp14.000, sedangkan KRL (Jakarta – Bogor ) untuk 50 km Rp7.000. Pun dengan tarif TransJakarta Rp3.500, KRL masih lebih murah.

"Saat ini semua stasiun baru juga dibangun 2-3 lantai dan lebih luas sesuai demand, yang sebelumnya hanya 1 lantai. Dalam hal ini konsekuensinya memerlukan biaya pelayanan tambahan extra yang semuanya menggunakan lift dan eskalator, sehingga biaya operasi stasiun-stasiun baru dan jumlah SDM bertambah pula," imbuhnya.

Dengan begitu, Deddy berharap masyarakat dapat menerima wacana kenaikan tarif KRL secara rasional, bukan emosional semata. Sebab, adanya usulan untuk menaikkan tarif KRL dari yang semula Rp3.000 menjadi Rp5.000 untuk 25 km pertama merujuk pada hasil survei yang dilakukan kepada pelanggan KRL Jabodetabek di 2021.

Adapun survei tersebut, tambahnya, dilakukan dengan melihat kemampuan membayar (ability to pay/ATP) dan kemauan untuk membayar (willingness to pay/WTP) dari pengguna KRL Jabodetabek.

"Rekomendasinya adalah kenaikan Rp2.000 untuk 25 km awal, jadi tarif menjadi Rp5.000 dari eksisting sebelumnya Rp3.000. Kemudian untuk tiap 10 km selanjutnya tetap Rp1.000. Apabila penyesuaian tarif tersebut disetujui, maka pemerintah tidak perlu memberikan subsidi PSO sebesar Rp2.000 per penumpang dan standar kualitas layanan PT Kereta Commuter Indonesia [KCI] atau KAI Commuter selaku operator KRL tidak akan mengalami penurunan," pungkas Deddy.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

transportasi krl
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top