Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kelebihan Pasok Sulitkan Pengembang Apartemen & Perkantoran

Konsultan properti Colliers International mengemukakan bahwa developer perkantoran dan apartemen di Indonesia masih mengalami kondisi yang lebih sulit dibandingkan dengan kota-kota gateaway di seluruh Asia terutama disebabkan oleh kelebihan pasok.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 06 Januari 2022  |  18:19 WIB
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Pengembang perkantoran dan apartemen di Indonesia masih berada pada situasi sulit dibandingkan dengan developer di berbagai kota gateaway di seluruh Asia dan Amerika Utara, tetapi sekarang mulai terlihat tanda-tanda positif.

Steve Atherton, Head of Capital Markets & Investment Services dari Colliers Indonesia, mengemukakan di sejumlah negara Asia mulai tampak peningkatan investasi dan di beberapa kasus bahkan telah kembali dan melampaui tingkat investasi pada masa prapandemi.

Namun, di Indonesia kondisi bisnis properti terutama perkantoran dan apartemen, masih sulit, karena selain terkena dampak ekonomi dan Covid-19, sebelumnya kita sudah berada dalam kondisi kelebihan pasok, serta adanya penurunan tren pada pasar perkantoran dan apartemen.

Meski begitu, lanjutnya pada Kamis (06/01/2022), terlihat ada beberapa tanda-tanda positif terlepas dari segala ketidakpastian pada 2021, terutama disebabkan oleh langkah pemerintah yang dapat mengelola kebijakan ekonomi dan kesehatan selama pandemi Covid-19 dengan cukup baik.

Fitch mempertahankan peringkat kredit BBB untuk Indonesia dengan target pertumbuhan PDB pada 2022 sebesar 6,8 persen. Secara historis, ketika ekonomi tumbuh, pasar properti ikut bertumbuh, dan permintaan pengguna serta investasi juga meningkat.

Saat ini, kata Atherton, baik investor lokal maupun asing, terlihat lebih condong ke arah investasi properti pada sektor perumahan dan logistik.

Beberapa orang akan memilih untuk membeli dan tinggal di apartemen yang lebih murah dan lebih nyaman dibandingkan dengan rumah yang harus ditempuh 1 jam hingga 2 jam dari pusat kota.

Perumahan terjangkau dengan harga mulai dari Rp300 juta hingga Rp1 miliar, memiliki permintaan terbesar dan terbanyak, tetapi persetujuan pinjaman bank untuk pembeli di kisaran harga yang lebih rendah dapat menjadi pertimbangan kembali.

Biasanya, persetujuan pinjaman dan penutupan transaksi lebih pasti ada pada kisaran harga Rp1 miliar sampai dengan Rp2 miliar.

Bagi mereka yang memiliki lebih banyak tabungan dan pekerjaan dengan pendapatan yang lebih tinggi, akan memilih untuk membeli apartemen menengah ke atas atau mewah yang nyaman dan berlokasi di pusat kota ataupun yang berada di pinggiran.

Akan tetapi, akan ada juga orang yang lebih memilih perumahan yang terjangkau di daerah yang cukup jauh, tapi dengan infrastruktur yang lebih baru dan lebih baik, seperti akses transportasi umum di sekitar jalan tol baru, light rail transit (LRT), moda raya terpadu (MRT), ataupun kereta komuter.

Colliers memprediksi ada permintaan yang lebih tinggi untuk semua jenis properti. Konsultan properti itu melihat peningkatan permintaan untuk transit oriented development (TOD) yang lebih cepat daripada non-TOD, sehingga peluang untuk membeli lahan atau terlibat dalam usaha patungan dengan pemilik tanah di area TOD strategis tetap menarik.

Insentif PPN yang diperpanjang oleh pemerintah terbukti menjadi dorongan positif nyata bagi investasi properti, terutama pada sektor perumahan.

Perpanjangan kebijakan tersebut hingga Juni 2022 diharapkan dapat terus berlanjut untuk sepanjang 2022 agar sesuai dengan perpanjangan program uang muka 0 persen dari Bank Indonesia yang berlaku hingga akhir tahun ini.

Sementara sektor logistik memiliki banyak permintaan, volumenya relatif kecil dibandingkan dengan pasar gateway Asia lainnya, sehingga Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh.

Untuk sektor perkantoran masih akan terus dipantau bagaimana perkembangan pasar selama masa kenormalan baru. “Kami masih belum melihat adanya tingkat harga untuk gedung perkantoran yang masih beroperasi dapat memotivasi pembeli untuk melakukan transaksi.”

Terakhir, bagi pasar perhotelan, Colliers melihat subsektor ini akan bangkit relatif cepat dalam hal tingkat okupansi diikuti dengan tarif kamar.

Beberapa pemilik hotel telah menghabiskan cadangan kas selama periode Covid-19, sehingga masih banyak peluang bagi investor untuk membeli hotel atau saham hotel atau portofolio, sehingga hal tersebut mampu mendatangkan modal untuk belanja modal, renovasi kamar, dan ekspansi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perkantoran apartemen bisnis properti
Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top