Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Peso Filipina Jadi Mata Uang Terburuk di Asia pada Minggu Terakhir 2021

Nomura Holdings Inc dan Barclays Plc memprediksi lebih banyak penurunan untuk peso dalam beberapa bulan mendatang.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 03 Januari 2022  |  10:15 WIB
 Presiden Filipina Rodrigo Duterte memegang uang peso Filipina untuk pengungsi Marawi saat berkunjung ke pusat Iligan City National School of Fisheries di Iligan City, Filipina pada tanggal 20 Juni 2017. - Reuters
Presiden Filipina Rodrigo Duterte memegang uang peso Filipina untuk pengungsi Marawi saat berkunjung ke pusat Iligan City National School of Fisheries di Iligan City, Filipina pada tanggal 20 Juni 2017. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Peso Filipina berubah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada bulan Desember dari posisi mata uang terbaik. Perubahan ini dipicu karena dorongan musim pengiriman uang mereda dari para pekerja migran yang reda. Ahli strategi melihat momentum bearish berlanjut.

Mata uang tersebut turun sekitar 2 persen minggu lalu. Penurunan ini menghapus semua kenaikan dalam tiga minggu pertama bulan Desember yang membuatnya menjadi unggulan regional.

Dikutip dari Bloomberg, Nomura Holdings Inc dan Barclays Plc termasuk di antara mereka yang memprediksi lebih banyak kerugian bagi peso dalam beberapa bulan mendatang.

Peso menghadapi tantangan dari kebijakan dovish bank sentral yang membiarkan suku bunga tidak berubah bulan lalu dan mengisyaratkan akan menjaga kebijakan moneter akomodatif. Hal ini berbeda dengan Federal Reserve yang yakin menetapkan kenaikan suku bunga pada tahun 2022. Namun, peso mungkin juga berada di bawah tekanan dari kenaikan transaksi berjalan yang defisit.

"Peso kemungkinan akan menjadi salah satu yang lamban di dunia dengan imbal hasil riil pasar berkembang yang lebih tinggi," kata Ashish Agrawal, Ahli Strategi Makro FX dan EM di Barclays di Singapura.

Memburuknya neraca transaksi berjalan dan ekspektasi bahwa BSP akan menormalkan kebijakan dengan lambat dapat lebih membebani peso, menurutnya.

Peso naik hampir 2 persen pada kuartal terakhir hingga 23 Desember, didukung oleh lonjakan pengiriman uang atau remitansi para pekerja migran dan optimisme atas pemulihan pertumbuhan ekonomi. Pengiriman uang atau remitansi Desember tercatat sebagai rekor yang tertinggi untuk tahun ini sejak 2009.

Mata uang terdepresiasi sekitar 6 persen pada tahun 2021 menjadi ditutup pada 51 per dolar AS pada hari Jumat (31/12/2021). Barclays memperkirakan mata uang ini akan jatuh ke 51,50 pada akhir Juni 2022, sementara Nomura melihat 51,7 pada akhir Maret 2022.

Sejarah menunjukkan peso selalu mengalami penurunan musiman pada bulan Januari dalam lima dari enam tahun terakhir karena dukungan dari pengiriman uang yang memudar.

Sementara itu, bank sentral bulan lalu merevisi perkiraan neraca berjalan 2021 menjadi defisit dari surplus, dan memperkirakan defisitnya akan naik lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar US$10 miliar pada 2022.

Peso menguji level teknis utama di sekitar 51 terhadap dolar pada penutupan perdagangan di 2021. Hal ini membuka pintu untuk peso melemah lebih lanjut menuju ke level 51,81.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

filipina peso

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top