Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kerap Kecelakaan, Instran Sebut Perlu Revolusi Total Manajemen Transjakarta

Direktur Eksekutif Instran, Deddy Herlambang mengatakan Transjakarta harus bertanggung jawab dengan mengembalikan kepercayaan publik untuk kembali menggunakan angkutan umum.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 08 Desember 2021  |  23:20 WIB
Kondisi bus TransJakarta yang mengalami kecelakaan di Cawang, Jakarta, Senin (25/10/2021). ANTARA - HO/Satlantas Polres Metro Jaktim
Kondisi bus TransJakarta yang mengalami kecelakaan di Cawang, Jakarta, Senin (25/10/2021). ANTARA - HO/Satlantas Polres Metro Jaktim

Bisnis.com, JAKARTA - Institut Studi Transportasi (Instran) menilai perlu adanya revolusi manajemen Transjakarta (TJ) secara total mengingat banyaknya kecelakaan yang terjadi. Dalam kurun waktu 40 hari terakhir, Instran mencatat sedikitnya 8 kecelakaan TJ terjadi di Ibu Kota.

Direktur Eksekutif Instran, Deddy Herlambang mengatakan Transjakarta harus bertanggung jawab dengan mengembalikan kepercayaan publik untuk kembali menggunakan angkutan umum.

"Sangat perlu revolusi manajemen TJ secara total, bila perlu adakan pergantian direksi baru yang lebih segar. Mengingat buruknya kinerja keselamatan TJ adalah equal dengan buruknya pengawasan dari direksi sampai ke bottom management," katanya, Rabu (8/12/2021).

Deddy menyebut, Direksi Transjakarta adalah jabatan profesional, bukan jabatan politis, sehingga yang mengemban posisi tersebut harusnya orang yang tepat.

Menurutnya, revolusi harus dilakukan total tidak setengah-setengah dan harus serius serta terkontrol. Terlebih, layanan bus rapid transit (BRT) Transjakarta ini disubsidi oleh Pemprov DKI Jakarta dari dana publik melalui skema PSO sebanyak Rp3 triliun per tahun.

"Akan teramat sayang bila [TJ] gagal untuk menjaring masyarakat menggunakan angkutan umum BRT. Namun, dana besar tersebut menjadi salah kelola di manajemen TJ yang tidak hanya terjadi pada manajemen keselamatannya saja, namun manajemen secara keseluruhan," keluh Deddy.

Lebih lanjut dia menilai, perlu segera dilakukan audit pada manajemen pengawasan, manajemen keselamatan, manajemen resiko, manajemen keuangan, manajemen SDM dan lainnya dalam tubuh organisasi Transjakarta.

Bila melihat kenyataan dari kecelakaan-kecelakaan Transjakarta sepanjang 2021, Deddy memandang perlunya dibentuk Direksi Keselamatan dalam organisasi Transjakarta yang hanya fokus dan konsentrasi terhadap tupoksi keselamatan.

"Contoh tugas direksi keselamatan adalah mengatur kecepatan semua sarana bus secara otomatis. Bus-bus TJ adalah bus-bus canggih yang berteknologi traksi elektronik yang kecepatan bus dapat dibatasi dalam cruise control, sehingga pramudi tidak dapat ngebut lagi. Tugas lainnya adalah mengatur cuti, istirahat, kesehatan, psikologi dan sejenisnya untuk para pramudi TJ," imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, sejumlah kecelakaan lalu lintas menimpa bus Transjakarta belum lama ini. Kecelakaan yang menjadi perhatian publik adalah tabrakan di Cawang, Jakarta Timur hingga menewaskan dua orang, yaitu sopir dan penumpang.

Selain di Cawang, bus Transjakarta terlibat kecelakaan tunggal di Senen Jakarta Pusat, Gandaria Jakarta Selatan, kemudian menabrak pos kepolisian di depan Pusat Grosir Cililitan (PGC), dan di depan Ratu Plaza Jalan Sudirman Jakarta.

Terakhir pada Senin (6/12/2021), bus Transjakarta kembali kecelakaan dan menyebabkan pejalan kaki meninggal dunia. Lokasi kejadian tepatnya di dekat SMK 57 arah Mampang Prapatan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

transjakarta kecelakaan bus transjakarta transportasi umum
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top