Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rentetan Kecelakaan Transjakarta Dinilai jadi Preseden Buruk Angkutan Umum

Harus dilakukan upaya pemasaran baru agar masyarakat kembali percaya dan tertarik menggunakan layanan bus bersubsidi tersebut.
Kondisi bus TransJakarta yang mengalami kecelakaan di Cawang, Jakarta, Senin (25/10/2021). ANTARA/HO-Satlantas Polres Metro Jaktim
Kondisi bus TransJakarta yang mengalami kecelakaan di Cawang, Jakarta, Senin (25/10/2021). ANTARA/HO-Satlantas Polres Metro Jaktim

Bisnis.com, JAKARTA - Institut Studi Transportasi (Instran) menilai rentetan kejadian kecelakaan yang dialami Transjakarta (TJ) merupakan preseden buruk bagi pelayanan angkutan umum massal.

Direktur Eksekutif Instran, Deddy Herlambang mengatakan harus dilakukan upaya pemasaran baru agar masyarakat kembali percaya dan tertarik menggunakan layanan bus bersubsidi tersebut.

"Banyaknya serial kejadian kecelakaan oleh bus TJ menjadi preseden buruk bagi pelayanan angkutan umum massal. Mendesak dilakukan trik marketing baru supaya masyarakat kembali tertarik menggunakan bus TJ," katanya, Rabu (8/12/2021).

Menurutnya, dengan banyaknya kecelakaan yang terjadi berulang-ulang, Transjakarta harus bertanggung jawab dengan mengembalikan kepercayaan publik agar kembali menggunakan angkutan umum.

Jika tidak, sambung Deddy, maka masyarakat akan semakin enggan memakai transportasi publik karena mempertimbangkan keselamatan. Kenyataan ini menyebabkan terganggunya konsep TDM (transport demand management) yang mengakibatkan masyarakat takut menggunakan angkutan umum.

"Padahal kami selalu kampanye kepada masyarakat diberbagai media untuk menggunakan angkutan massal berorientasi transit dengan meninggalkan kendaraan pribadi," ucapnya.

Dalam rangka menarik kembali minat masyarakat, Deddy mengusulkan perlunya balancing seperti pemberian insentif ke pengguna Transjakarta. Contohnya, promosi menggunakan bus TJ gratis selama 1-3 hari atau dapat voucer belanja tertentu supaya publik tidak takut menggunakan layanan Transjakarta.

Selain itu, tambah dia, diperlukan rating atau penilaian terbuka oleh Transjakarta sehingga diketahui siapa saja operator yang sering melakukan kecelakaan atau pelayanannya lebih baik.

"Bila TJ open manajemen tentunya publik akan puas dengan pelayanan TJ. Jadi, memang harus dipublikasikan sehingga publik dapat terlibat dalam kontrol ketika bus-bus tersebut beroperasi. Kontak atau nomor pramudi juga dapat dipasang dalam kabin bus, sehingga apabila pramudi dalam mengendarai bus ugal-ugalan atau membahayakan maka pengguna TJ dapat melaporkan langsung ke hotline TJ," sambungnya.

Sebagaimana diketahui, sejumlah kecelakaan lalu lintas menimpa bus Transjakarta belum lama ini. Kecelakaan yang menjadi perhatian publik adalah tabrakan di Cawang, Jakarta Timur hingga menewaskan dua orang, yaitu sopir dan penumpang.

Selain di Cawang, bus Transjakarta terlibat kecelakaan tunggal di Senen Jakarta Pusat, Gandaria Jakarta Selatan, kemudian menabrak pos kepolisian di depan Pusat Grosir Cililitan (PGC), dan di depan Ratu Plaza Jalan Sudirman Jakarta.

Terakhir pada Senin (6/12/2021), bus Transjakarta kembali kecelakaan dan menyebabkan pejalan kaki meninggal dunia. Lokasi kejadian tepatnya di dekat SMK 57 arah Mampang Prapatan.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rahmi Yati
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper