Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Nataru 2021/2022: Tak Ada Penerbangan Tambahan, Frekuensi Dibatasi

Pemerintah melakukan pengendalian transportasi udara agar mematuhi ketentuan operasi seperti yang telah diatur dalam SE No.13/2020 tentang operasional transportasi udara dalam masa kegiatan masyarakat produktif dan aman dari Covid-19.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 02 Desember 2021  |  01:16 WIB
Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Internasional Yogyakarta. - Antara
Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Internasional Yogyakarta. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah tidak memberikan tambahan penerbangan atau extra flight dan mengendalikan frekuensi penerbangan pada rute-rute tertentu selama periode Natal dan Tahun Baru 2020/2021.

Menhub Budi Karya Sumadi mengatakan selama periode nataru 2021/2021, pemerintah melakukan pengendalian transportasi udara agar mematuhi ketentuan operasi seperti yang telah diatur dalam SE No.13/2020 tentang operasional transportasi udara dalam masa kegiatan masyarakat produktif dan aman dari Covid-19. Maskapai berkewajiban memastikan penumpang telah memenuhi syarat kesehatan yang berlaku.

Oleh karena itu, operator penerbangan berkewajiban menyampaikan rencana operasi pada masa Nataru 2021/2022.

“Pengendalian transportasi udara dilakukan pembatasan frekuensi penerbangan, tidak memberikan tambahan kapasitas penerbanagn [extra flight], dan persyaratan ketat syarat perjalanan berlaku,” ujarnya, Rabu (1/12/2021).

Selain maskapai, pemerintah juga akan menetapkan kebijakan pembatasan dan jam operasi bandara.

Sebelumnya, PT Angkasa Pura II (persero) atau AP II telah mengusulkan dan membahas bersama dengan regulator untuk membatasi jumlah tiket penerbangan yang dijual selama periode nataru 2021/2022.

Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin menjelaskan pada periode nataru pendistribusian pergerakan masyarakat harus dilakukan. Dia meminta maskapai penerbangan untuk tidak menjual tiket dengan jumlah yang lebih banyak menjelang tanggal puncak mendekati nataru.

"Ini sudah kami usulkan dan sudah kami bahas. Jadi maskapai menjual tiket juga tidak menumpuk di satu hari atau peak days. Ada pembatasan penjualan tiket per hari," ujarnya, Kamis (25/11/2021).

Lewat kebijakan tersebut, Maskapai harus rela menjual tiket pada hari berikutnya jika jumlah kuota yang telah dijual pada hari itu sudah habis.

"Jadi pergerakan masyarakat sudah diatur dengan sistem yang lebih baik. Ini salah satu caranya di samping tidak ada penambahan extra flight," imbuhnya.

Awaluddin berpendapat mekanisme tersebut relatif lebih sinkron dengan kebutuhan masyarakat, operasi bandara dan juga pengaturan maskapai.

Guna menghindari penumpukan, pihaknya juga sudah menyiapkan Terminal 3. Kapasitas terminal tersebut saat ini masih longgar karena belum mencapai 40.000-50.000 penumpang per harinya.

Terkait dengan persiapan menghadapi nataru sendiri, AP II juga masih menunggu regulasi teknis yang ditetapkan oleh Kementerian perhubungan. Sejauh ini, persiapan yang sudah dilakukan oleh operator bandara pelat merah tersebut adalah menjaga standar protokol kesehatan.

Kemudian dari sisi kapasitas bandara saat ini juga masih merujuk pada kebijakan maksimal sebesar 70 persen penumpang waktu sibuk.

Awaluddin juga berasumsi bahwa kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 pada saat nataru mendorong pembatasan perjalanan sehingga perlu adanya kesesuaian operasi antar bandara dan kesesuaian kebutuhan serta pergerakan maskapai.

Sejauh ini Awal mencermati secara umum animo masyarakat sudah meningkat sejalan dengan vaksinasi yang masif. Kemudian persyaratan yang juga sudah disesuaikan kondisi masyarakat. Dengan kondisi tersebut pihaknya juga harus mewaspadai kondisi pada akhir tahun.

"Akhir tahun ini ujian bagi kita juga agar kegiatan keekonomian sosial masyarakat itu sinkron dengan protokol kesehatan," tekannya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penerbangan Natal dan Tahun Baru
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top