Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Awas! Kontribusi Ekspor CPO Indonesia Punya Efek Bumerang

Ekonom menilai kontribusi ekspor CPO Indonesia punya efek bumerang yang memberikan dampak negatif.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 02 Desember 2021  |  10:11 WIB
Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). ANTARA FOTO - Muhammad Bagus Khoirunas
Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). ANTARA FOTO - Muhammad Bagus Khoirunas

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom menilai kontribusi CPO yang besar pada struktur ekspor nonmigas Indonesia bisa menimbulkan efek bumerang yang memberikan dampak negatif. Kinerja ekspor total bakal makin terdampak fluktuasi harga komoditas tersebut di pasar internasional.

Data BPS menunjukkan bahwa nilai ekspor CPO dalam kode HS 15 pada Januari-September 2021 mencapai US$23,95 miliar. Nilai tersebut setara dengan 15,41 persen total ekspor nonmigas. Pada 2020, kontribusi CPO pada ekspor nonmigas bernilai US$20,71 miliar atau setara 13,37 persen.

“Kami menilai memang hal tersebut berpotensi memberikan dampak negatif karena kinerja ekspor akan makin terpengaruh terhadap fluktuasi harga CPO di pasar internasional,” kata Ekonom Bank Permata Josua Pardede, Rabu (1/12/2021).

Josua mengatakan program penghiliran CPO akan membantu mengurangi risiko fluktuasi harga CPO karena produk yang diekspor lebih beragam. Penghiliran produk CPO juga mengurangi tingkat substitusi yang dirasakan barang mentah, misalnya antara CPO dan minyak kedelai.

Dia mencatat tantangan jangka pendek dalam peningkatan ekspor produk CPO adalah gangguan produksi di negara-negara sentra. Hal ini sempat menjadi kekhawatiran pelaku usaha atas kinerja ekspor sampai akhir tahun, seiring dengan tren produksi yang tak naik signifikan.

“Ada juga hambatan perdagangan yang rentan dihadapi CPO, terutama ke mitra utama seperti Uni Eropa. Saat ini Indonesia bahkan masih memproses penyelesaian sengketa dengan blok tersebut di WTO atas kebijakan mereka,” kata Josua.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyatakan optimistis atas tren permintaan minyak kelapa sawit ke depan. Dia menilai permintaan akan naik, didorong oleh krisis energi di sejumlah negara. Dia mengatakan minyak sawit bisa menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan energi dengan kehadiran biofuel.

“Seiring masuknya fase pemulihan di berbagai negara, permintaan minyak nabati akan naik. Permintaan diperkirakan akan terus naik terutama karena krisis energi di sejumlah negara,” kata Joko.

Dari sisi harga, Joko meyakini komitmen pemerintah untuk melanjutkan kebijakan mandatori biodiesel bisa menjadi penyeimbang antara ekspor dan konsumsi domestik.

“Program ini telah menolong stabilisasi konsumsi domestik dan cenderung memperlihatkan peningkatan. Ke depannya konsumsi domestik diperkirakan akan naik dan industri sawit optimistis dengan keberlangsungan bisnis ke depan seiring dengan kenormalan baru,” kata Joko.

Berdasarkan data Gapki, konsumsi domestik CPO memperlihatkan kenaikan pada 2021 dibandingkan dengan 2020 meski terdapat penurunan pada pemakaian untuk biodiesel. Sampai September 2021, konsumsi CPO untuk biodiesel berjumlah 5,22 juta ton, turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sejumlah 5,50 juta ton.

Meski demikian, konsumsi CPO untuk pangan tercatat tumbuh dari 6,29 juta ton pada Januari sampai September 2020 menjadi 6,92 juta ton pada periode yang sama di 2021. Serapan lokal CPO untuk oleokimia juga naik dari 1,12 juta ton menjadi 1,57 juta ton.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gapki ekspor cpo
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top