Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sri Mulyani Waspadai Inflasi AS, Ini Dampaknya ke Ekonomi RI

Kenaikan inflasi tersebut akan mendorong the Fed, bank sentral di AS, untuk melakukan pengetatan moneter. Hal inilah yang harus diwaspadai karena akan berimplikasi secara global, termasuk di negara-negara berkembang.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 19 November 2021  |  11:32 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani melantik sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Keuangan, Senin (5/10/2021) -  Biro KLI / Kemenkeu
Menteri Keuangan Sri Mulyani melantik sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Keuangan, Senin (5/10/2021) - Biro KLI / Kemenkeu

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia telah kembali ke jalur pemulihan pada kuartal IV/2021. Namun, sejumlah risiko global masih perlu terus diwaspadai.

“Saat kita fokus memulihkan ekonomi dan secara bertahap juga menyehatkan APBN, lingkungan global tidak statis, risiko muncul dalam bentuk yang baru,” katanya, Jumat (19/11/2021).

Sri Mulyani menjelaskan, salah satu risiko global yang muncul adalah laju inflasi yang meningkat tinggi di Amerika Serikat, hingga mencapai lebih dari 6 persen.

Kenaikan inflasi tersebut akan mendorong the Fed, bank sentral di AS, untuk melakukan pengetatan moneter. Hal inilah yang harus diwaspadai karena akan berimplikasi secara global, termasuk di negara-negara berkembang.

“Ini adalah inflasi tertinggi dalam 30 tahun terakhir, pasti akan menimbulkan implikasi dari kebijakan moneter the Fed dan fiskalnya. Mereka pasti akan dipaksa menginjak rem. Jika AS menginjak rem, seluruh dunia akan ikut terguncang,” jelasnya.

Sri Mulyani mengatakan, pemulihan ekonomi global dari dampak pandemi Covid-19 sangat dipengaruhi oleh pemulihan di negara maju.

Selain AS, sejumlah negara di Eropa juga tengah mengalami hal yang sama, misalnya Jerman, yang saat ini mengalami kenaikan inflasi karena persoalan komoditas dan disrupsi rantai pasok.

China pun saat ini mengalami pelemahan ekonomi dikarenakan varian Delta Covid-19 dan kenaikan harga dari sisi produksi, serta disrupsi mata rantai pasok.

“Jadi ini lingkungan yang harus kita waspadai sampai akhir tahun ini hingga tahun depan di tengah kita harus menjaga pemulihan ekonomi dan menyehatkan APBN,” kata dia.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi sri mulyani rantai pasok
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top