Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Biar Kereta Cepat Jakarta-Bandung Cepat Balik Modal, Ini Usul Instran

Instran memberikan usulan agar proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung cepat balik modal.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 17 November 2021  |  14:03 WIB
Foto udara lokasi pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di Cikunir, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (2/11/2021). - Antara
Foto udara lokasi pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di Cikunir, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (2/11/2021). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung dianggap sebagai proyek yang mubadzir lantaran butuh biaya yang besar dan diprediksi akan lama untuk balik modal.

Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Deddy Herlambang menilai mega proyek ini memang akan sulit balik modal bila hanya sekadar berjualan tiket (farebox).

Menurutnya, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang merupakan perusahaan patungan antara konsorsium Indonesia dan China yang tengah mengerjakan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung bisa mendapatkan keuntungan dari aset-aset bergerak dan tidak bergerak sebagai pemasaran non tiket (non farebox).

"Ini akan menjanjikan optimis laba besar daripada pasrah dari jualan tiket KCIC," katanya, Rabu (17/11/2021).

Deddy mengaku telah melihat langsung trase Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) dari stasiun Halim lanjut ke Karawang, Padalarang dan Tegalluar. Dia menyebut memang banyak fakta menarik mengenai lahan-lahan stasiun yang semua masih berupa lahan kosong kecuali lahan stasiun Halim.

Dia menilai lahan-lahan kosong ini akan lebih mudah untuk dibangun Transit Oriented Development (TOD) atau Transit Joint Development (TJD) daripada kawasan yang sudah padat karena lebih sulit pengolahannya dari aspek biaya dan sosial.

"Apalagi masih ramai diperdebatkan sulitnya balik modalnya KCJB apabila hanya jualan tiket saja [farebox]. Maka, jualan lahan untuk properti dalam skema TOD dan TJD akan lebih menguntungkan bagi PT KCIC dalam pengembalian modal pembangunan KCJB kepada Bank China Development Bank," ujar Deddy.

Lebih lanjut Deddy memerinci, Stasiun KCJB Karawang masih memiliki lahan kosong radius +/- 1,5 km dari stasiun. Kawasan ini dapat menjadi TJD dan TOD di lahan stasiun bila KCIC dapat mengajak investor untuk bekerja sama.

Kemudian Stasiun KCJB Padalarang. Di sana, imbuh Deddy, memang merupakan kawasan yang sudah padat sehingga akan sulit untuk mengembangkan TOD. Namun kawasan itu tepat untuk dibangun TJD di atas lantai stasiun KCJB.

"Di site stasiun juga dekat dengan Kota Baru Parahyangan. Sangat potensial digarap integrasi antarmoda dan intermodal di lahan stasiun. Sangat menarik apabila pengembang Kota Baru Parahyangan mau membangun apartment/mall di atas stasiun KCJB Padalarang," tuturnya.

Dia menambahkan, untuk Stasiun KCJB Tegalluar yang merupakan stasiun akhir, masih berupa lahan kosong radius +/- 2 km dari stasiun. Kawasan ini dapat dijadikan stasiun TJD dan tentunya juga sangat menarik untuk TOD.

Sementara itu dikutip dari laman resmi KCIC, Rabu (17/11/2021), dikatakan bahwa selain pengembangan infrastruktur transportasi publik, konsorsium KCJB turut berupaya menunjang peningkatan produktivitas masyarakat di sepanjang trase kereta cepat melalui pengembangan kawasan terintegrasi atau TOD di setiap area stasiun yakni Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar.

Konsep TOD yang dipadukan dengan kereta cepat diyakini dapat meningkatkan kemudahan akses wilayah, sehingga mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah sekitar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kereta Cepat
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top