Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Batu Bara Acuan Makin Berkilau, Ini Faktor Penyebabnya

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batu bara acuan (HBA) November 2021 mencetak rekor terbaru mencapai US$215,63 per metrik ton. Kenaikan tersebut dinilai akibat dari masih tingginya permintaan yang disertaioleh  gangguan transportasi.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 08 November 2021  |  17:41 WIB
Harga Batu Bara Acuan Makin Berkilau, Ini Faktor Penyebabnya
Aktivitas pemindahan muatan batu bara dari tongkang ke kapal induk dengan floating crane. - indikaenergy.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batu bara acuan (HBA) November 2021 mencetak rekor terbaru mencapai US$215,63 per metrik ton. Kenaikan tersebut dinilai akibat dari masih tingginya permintaan yang disertaioleh  gangguan transportasi.

Harga acuan bulan ini meningkat cukup tajam, hingga 33 persen dibandingkan dengan HBA pada Oktober 2021, yakni US$161,63 per metrik ton. Kenaikan itu merupakan yang tertinggi sepanjang 2021, dan mencetak rekor HBA sepanjang masa.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi menilai, penetapan tersebut sesuai dengan tingginya permintaan China pada komoditas ini di musim dingin.

“Permintaan dari Tiongkok terus meningkat, menyusul mulai memasuki musim dingin serta kondisi cuaca buruk menyebabkan terganggunya kegiatan produksi dan transportasi batu bara di provinsi produsen batu bara,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (8/11/2021).

HBA merupakan harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, total moisture 8 persen, total sulphur 0,8 persen, dan ash 15 persen.

Ketua Umum Ketua Umum Asosiasi Pemasok Batu Bara dan Energi Indonesia (Aspebindo) Anggawira menerangkan bahwa kenaikan HBA turut disebabkan oleh harga batu bara di pasaran yang mencapai US$190 per metrik ton.

Selain itu, gangguan pada proses pengantaran komoditas itu ke negara tujuan turut menjadi faktor utama kenaikan tersebut. Hal itu juga ditunjukan dari Mineral One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM.

Catatan pemerintah menunjukan bahwa realisasi ekspor batu bara baru menyentuh 247,52 juta ton, atau setara 50,77 persen dari rencana ekspor tahun ini, yakni 487,50 juta ton.

“[Permintaan musim dingin] sampai Desember 2021. Kemungkinan naik tipis [bulan depan], tapi ini sudah tinggi banget, karena transportasi sulit,” katanya kepada Bisnis.

Sementara itu, Agung Pribadi menjelaskan bahwa terdapat dua faktor turunan yang mempengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand. Pada faktor turunan supply dipengaruhi oleh faktor cuaca, teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara itu, untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

Nantinya, HBA November 2021 ini akan dipergunakan pada penentuan harga batu bara pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel) selama satu bulan ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china kementerian esdm harga batu bara
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top