Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Butuh Waktu Lama untuk Ekspansi, Pelita Air Sulit Gantikan Garuda Indonesia (GIAA)

Pelita Air yang digadang-gadang bakal menggantikan maskapai pelat merah Garuda Indonesia (GIAA) dinilai akan sulit melakukan ekspansi bisnis. Butuh waktu lama bagi maskapai tersebut untuk bisa mengembangkan sayapnya.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 04 November 2021  |  18:43 WIB
Butuh Waktu Lama untuk Ekspansi, Pelita Air Sulit Gantikan Garuda Indonesia (GIAA)
Garuda Indonesia - istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pelita Air yang digadang-gadang bakal menggantikan maskapai pelat merah Garuda Indonesia (GIAA) dinilai akan sulit melakukan ekspansi bisnis. Butuh waktu lama bagi maskapai tersebut untuk bisa mengembangkan sayapnya.

Pemerhati penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri) Gerry Soedjatman mengatakan bahwa tidak mudah untuk menggantikan Garuda Indonesia. Penunjukan Pelita Air juga dinilainya bukan jalan keluar yang tepat.

Hal ini dikarenakan maskapai berkode emiten GIAA itu memiliki sarana dan prasarana yang sangat besar, dan tidak sebanding dengan maskapai yang lain.

“Untuk ekspansi, Pelita akan butuh waktu. Fokusnya Pelita adalah untuk persiapan armada bisnis penerbangan berjadwalnya dulu, dan ekspansi awal untuk mencapai jumlah yang cukup untuk kemudian mulai ke ekspansi besar-besaran,” katanya kepada Bisnis, Kamis (4/11/2021).

Gerry menilai, posisi Garuda Indonesia tidak mudah digantikan dengan maskapai lain, termasuk Pelita Air. Menurutnya, selain memiliki sarana dan prasarana yang sangat besar, jumlah pesawat dan rute yang dilayani GIAA juga tidak sebanding dengan Pelita Air saat ini.

Hal senada juga sempat disampaikan pemerhati penerbangan Alvin Lie. Menurutnya, maskapai penerbangan milik PT Pertamina (Persero) itu memang jauh lebih sehat secara finansial ketimbang Garuda Indonesia yang notabenenya tengah berada diujung tanduk lantaran dibebani setumpuk utang dan ekuitas negatif mencapai US$2,5 miliar atau sekitar Rp35 triliun (kurs Rp14.000 per dolar AS).

Namun begitu, Alvin menyebut bahwa akan jadi tantangan berat bagi Pelita Air untuk mendadak mengembangkan bisnisnya secara ekstrem menjadi airlines utama. Baik dari segi permodalan, armada, SDM maupun organisasi.

“Akan lebih baik jika Pelita Air bertransformasi secara bertahap, daripada mengembangkan bisnis secara ekstrem,” imbuhnya.

Sementara itu, saat ini Garuda Indonesia membutuhkan setidaknya tambahan Rp14,32 triliun atau US$1 miliar untuk membayar utangnya dan tetap bertahan.

Dilansir Bloomberg, Rabu (13/11/2021), Wakil Menteri II BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan bahwa perseroan sedang dalam pembicaraan dengan kreditur untuk merestrukturisasi utang senilai US$6,3 miliar. Pembicaraan tersebut diharapkan bisa rampung pada kuartal kedua tahun depan.

Perusahaan maskapai pelat merah itu telah menyiapkan sejumlah opsi dalam negosiasi utang, termasuk beralih ke instrument, misalnya obligasi konversi wajib atau pinjaman bank tanpa kupon.

“Kami sedang bernegosiasi dengan banyak pihak. Jadi preferensi mereka pun beragam. Saya harus menggarisbawahi, pemerintah tidak ingin mempailitkan Garuda. Yang kami lakukan adalah mencari cara untuk menyelesaikan persoalan utang, baik di luar proses pengadilan maupun di dalam pengadilan,” katanya.

Ketika negosiasi restrukturisasi rampung, Garuda disebutnya akan mengumpulkan US$1 miliar untuk membayar kewajibannya dan untuk modal kerja. Dengan kebutuhan pembiayaan cukup besar, pemerintah mulai berpikir realistis dan membuka kemungkinan investor swasta untuk menjadi pemilik mayoritas.

“Kami terus melakukan pembicaraan dengan sejumlah pihak,” jelasnya.

Menurutnya, Garuda Indonesia harus memangkas utangnya di kisaran 70–80 persen supaya dapat bertahan. Per akhir Juni tahun ini, laporan keuangan menunjukkan perseroan memiliki ekuitas negatif senilai US$2,8 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia kementerian bumn Pelita Air
Editor : Lili Sunardi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top