Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KTT BIMP-EAGA : Kerja Sama Ekonomi Subregional Asia Tenggara Terkontraksi Akibat Pandemi

Perkembangan kerja sama Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia dan Filipina itu dibahas pada Konferensi Tingkat Tinggi Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (KTT BIMP-EAGA) ke-14, Kamis (28/10/2021).
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 28 Oktober 2021  |  18:28 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan sambutan saat Bisnis Indonesia Award (BIA) 2021 di Jakarta, Rabu (15/9/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan sambutan saat Bisnis Indonesia Award (BIA) 2021 di Jakarta, Rabu (15/9/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja kerja sama ekonomi subregional Asia Tenggara antara Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia dan Filipina periode 2019-2020 mengalami kontraksi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kontraksi pertumbuhan ekonomi itu tidak lepas dari dampak pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak 2020 lalu.

Perkembangan ekonomi gabungan antara empat negara Asia Tenggara itu dibahas pada Konferensi Tingkat Tinggi Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (KTT BIMP-EAGA) ke-14, Kamis (28/10/2021). KTT itu dipimpin oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Perkembangan ekonomi makro terkait dengan kerja sama ekonomi ini selama dua tahun, kata Airlangga, menurun terutama di sektor perdagangan dan pariwisata. Pada dua sektor tersebut, kinerja mengalami kontraksi terutama pada 2020. Sektor perdagangan mengalami penurunan dari US$107,6 miliar pada 2019, ke US$95,3 miliar pada 2020.

Sektor pariwisata terkontraksi lebih dalam lagi dari US$29,7 miliar pada 2019 turun hingga US$6,2 miliar pada 2020. Kedatangan turis untuk pariwisata tercatat terkontraksi sebesar -76 persen selama periode 2019-2020.

Penurunan dua indikator ekonomi tersebut menyebabkan PDB kombinasi antara empat negara BIMP-EAGA akhirnya turun dari 6,9 persen (year-on-year/yoy) pada 2019, ke -3,5 persen (yoy) pada 2020.

"Ekonomi di BIMP-EAGA sendiri sebesar US$322,8 miliar," jelas Airlangga pada konferensi pers KTT BIMP-EAGA ke-14 secara virtual, Kamis (28/10/2021).

Adapun, indikator ekonomi yang menyebabkan PDB gabungan keempat negara terkontraksi, masih terbantu oleh dua indikator lainnya yaitu oleh kinerja investasi domestik dan asing atau Foreign Direct Investment (FDI).

Airlangga mencatat total FDI keempat negara justru meningkat selama dua tahun yaitu dari US$9.724,7 miliar pada 2019, ke US$12.793,9 miliar. Selain itu, total investasi domestik naik dari US$6.985 miliar di 2019, ke US$9.238,2 miliar.

Di sisi lain, Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara berkembang khususnya di empat negara ini bisa tumbuh 7,1 persen (yoy) di 2021, sedangkan 3,1 persen (yoy) di Asia Tenggara.

Sebelumnya, Forum KTT BIMP-EAGA dibetuk guna menjalin kerja sama konkret antar empat negara yang berdekatan secara geografis ini. Forum ini dibentuk pada 1994 dan telah berkontribusi dalam membangun perekonomian sub kawasan tersebut.

Acara KTT yang digelar secara virtual hari ini dihadiri oleh kepala pemerintahan, dan dari Indonesia diwakili oleh Presiden Jokowi. Menko Perekonomian Airlangga dan Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar turut menemani Presiden.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asia tenggara bimp-eaga kerja sama ekonomi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top