Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jual Alat Canggih Ini, Pemerintah Filipina Tegur Facebook, Lazada dan Shopee

Toko online diperintahkan oleh NTC untuk berhenti menjual perangkat yang dipasarkan sebagai "Hitech SMS Blaster". NTC meminta perwakilan mereka untuk hadir di hadapan komisi pada 27 Oktober 2021.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 13 Oktober 2021  |  12:22 WIB
Stiker dengan logo Facebook terlihat dalam konferensi F8 yang digelar Facebook di San Jose, California, AS, Selasa (30/4/2019). - Reuters/Stephen Lam
Stiker dengan logo Facebook terlihat dalam konferensi F8 yang digelar Facebook di San Jose, California, AS, Selasa (30/4/2019). - Reuters/Stephen Lam

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Filipina memerintahkan Facebook Inc., Lazada Group, dan Shopee Sea Ltd untuk berhenti menjual pemancar ponsel portabel yang tidak terdaftar. Pasalnya, pemerintah Filipina menilai transmitter ini dapat digunakan oleh politisi yang berkampanye untuk pemilihan Mei 2022.

Komisi Telekomunikasi Nasional (NTC) mengatakan penjualan peralatan ini yang dapat mengirim pesan teks ke pengguna telepon seluler terdekat melanggar undang-undang tentang kontrol radio serta aturan turunannya yang melarang penggunaan repeater seluler portabel.

Mesin-mesin tersebut dijual masing-masing seharga 3 juta peso atau US$59.256 di toko online, menurut Philippine Daily Inquirer. Dari berita yang diturunkan media setempat tersebut, kelompok-kelompok politik dapat menggunakannya secara diam-diam.

Toko online diperintahkan oleh NTC untuk berhenti menjual perangkat yang dipasarkan sebagai "Hitech SMS Blaster". NTC meminta perwakilan mereka untuk hadir di hadapan komisi pada 27 Oktober 2021.

Peralatan tersebut tidak boleh dijual, dibeli atau digunakan kecuali oleh dewan manajemen bencana dan lembaga negara resmi lainnya pada saat darurat, kata Wakil Komisaris NTC Edgardo Cabarios dalam balasan pesan telepon yang dikutip dari Bloomberg.

Awal bulan ini, NTC memerintahkan penyelidikan atas ledakan teks darurat yang mengumumkan pencalonan presiden dari mantan senator Bongbong Marcos, putra mendiang diktator Ferdinand Marcos.

Kamp Marcos mengatakan pada 6 Oktober 2021 bahwa mereka mendukung penyelidikan dan menambahkan bahwa ledakan teks terjadi ketika Bongbong mengajukan pencalonannya dan mencurigai itu adalah bagian dari penghancuran sosoknya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

facebook filipina lazada shopee

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top