Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Netral Karbon 2060, Ini Strategi Utama Menteri ESDM

Pemerintah menargetkan mencapai netral karbon pada 2060 atau bahkan lebih cepat.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 08 Oktober 2021  |  19:32 WIB
Netral Karbon 2060, Ini Strategi Utama Menteri ESDM
Ilustrasi. - ilmupengetahuan.org

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan bahwa transformasi energi menuju netral karbon menjadi komitmen bersama bahkan lebih cepat dari target. 

Adapun lima prinsip yang akan dijalankan yakni peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), pengurangan energi fosil, kendaraan listrik di sektor transportasi, peningkatan pemanfaatan listrik pada rumah tangga dan industri dan pemanfaatan Carbon Capture and Storage (CCS).

"Kami telah menyiapkan peta jalan transisi menuju energi netral mulai tahun 2021 sampai 2060 dengan beberapa strategi kunci," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (8/10/2021). 

Dia menjelaskan, pemerintah akan mengeluarkan regulasi dalam bentuk Peraturan Presiden terkait EBT dan retirement coal pada 2021. "Tidak ada tambahan PLTU baru kecuali yang sudah berkontrak maupun sudah dalam tahap konstruksi," terangnya.

Selanjutnya pada 2022, pemerintah akan memulai penggunaan kompor listrik untuk 2 juta rumah tangga per tahun. Kemudian, pembangunan interkoneksi, jaringan listrik pintar atau smart grid dan smart meter pada 2024. Setahun berikutnya, pemerintah membidik bauran EBT mencapai 23 persen yang didominasi PLTS.

Strategi lainnya adalah penghentian impor gas pada 2027. Lalu bauran energi akan mencapai 42 persen EBT pada 2030. Saat itu diharapkan jaringan gas menyentuh 10 juta rumah tangga, kendaraan listrik sebanyak 2 juta mobil dan 13 juta motor hingga pemanfaatan Dymethil Ether dengan penggunaan listrik sebesar 1.548 kWh/kapita.

Selain itu, seluruh PLTU subcritical tahap pertama akan mengalami pensiun dini di tahun 2031 diiringi interkoneksi antar pulau mulai COD di tahun 2035. Adapun konsumsi listrik pada saat itu diperkirakan sebesar 2.085 kWh/kapita dan bauran EBT mencapai 57 persen didominasi PLTS, Hydro dan Panas Bumi.

Lebih jauh lagi, bauran EBT sudah mencapai 71 persen dan tidak ada PLT Diesel yang beroperasi pada 2040. Kondisi ini diiringi penggunaan lampu LED 70 persen, tidak ada lagi penjualan motor konvensional dan konsumsi listrik mencapai 2.847 kWh/kapita.

Lima tahun berikutnya, pemerintah mewacanakan akan ada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama mulai COD. "Kita juga mempertimbangkan penggunaan energi nuklir yang direncanakan dimulai tahun 2045 dengan kapasitas 35 GW sampai dengan 2060," harap Arifin.

Selanjutnya, bauran EBT diharapkan sudah mencapai 87 persen di 2050 dibarengi dengan tidak melakukan penjualan mobil konvensional dan konsumsi listrik 4.299 kWh/kapita. 

Pemerintah menargetkan bauran energi dapat mencapai 100 persen pada 2060 didominasi oleh PLTS dan PLTA. Capaian ini dibarengi dengan penyaluran jaringan gas kepada 23 juta sambungan rumah tangga, kompor listrik 52 juta rumah tangga, penggunaan kendaraan listrik, dan konsumsi listrik menyentuh angka 5.308 kWh/kapita. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementerian esdm energi terbarukan emisi karbon
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top