Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Obligasi Infrastruktur Singapura Curi Perhatian di Tengah Krisis Evergrande

Obligasi dengan tenor 30 tahun ini muncul di tengah kekhawatiran terhadap obligasi China ketika perusahaan properti Evergrande yang tengah menghadapi krisis. Imbal hasil yang ditawarkan juga menarik, di mana menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 20 September 2021  |  10:54 WIB
Apartemen dan properti komersial Singapura, foto file 27 September 2018. - Reuters
Apartemen dan properti komersial Singapura, foto file 27 September 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Obligasi Pemerintah Singapura untuk infrastruktur perdana akan segera diluncurkan pada 1 Oktober 2021, seiring dengan pemulihan ekonomi global yang tersendat meningkatkan permintaan untuk utang berperingkat teratas.

Dilansir Bloomberg pada Senin (20/9/2021), obligasi dengan tenor 30 tahun ini muncul di tengah kekhawatiran terhadap obligasi China ketika perusahaan properti Evergrande yang tengah menghadapi krisis. Imbal hasil yang ditawarkan juga menarik, di mana menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.

Yield obligasi ini tercatat lebih tinggi dari treasury Amerika Serikat pada pekan lalu, menjadi yang pertama sejak Mei 2020. Baik ANZ dan DBS memperkirakan jumlah yang terkumpul akan mencapai sekitar 2 miliar dolar Singapura (US$1,48 miliar).

Otoritas Moneter Singapura akan mengumumkan pada Selasa berapa banyak yang ingin mereka kumpulkan dari lelang perdana yang akan berlangsung 28 September.

Obligasi ini menjadi yang pertama diterbitkan oleh pemerintah Singapura dengan kategori SGS (Infrastructure), yang berbeda dengan SGS (Market Development) dan Green SGS (infrastructure) yang akan diterbitkan pada tahun depan.

"Saya memperkirakan permintaan akan memadai. Ukuran lelang 15 tahun dan 20 tahun telah diperkecil untuk menyediakan ruang, dan yield jangka panjang telah naik lebih tinggi untuk mengantisipasi SGS [Infrastructure]," kata Irene Cheung, ahli strategi senior Australia & New Zealand Banking Group Ltd. di Singapura.

Salah satu faktor yang akan meningkatkan minat investor terhadap obligasi infrastruktur Singapura adalah krisis Group Evergrande. Developer dengan utang terbesar di dunia telah gagal memenuhi komitmen kepada pemasok, investor ritel, dan pembeli rumah. Hal ini akan memicu kekhawatiran potensi gagal bayar dan kerusuhan sosial.

Pemerintah China telah memperketat kebijakan sektor properti yang berhasil memukul para investor di saham-saham China maupun Hong Kong.

“Jika tindakan keras kepada properti dan teknologi berujung pada gagal bayar, maka penetapan harga ulang yang berisiko menyakitkan dapat menular. [Obligasi Singapura] dalam posisi yang tepat untuk mendapat keuntungan dari [kebijakan] kalibrasi ulang," kata Vishnu Varathan, kepala ekonomi dan strategi Mizuho Bank Ltd. di Singapore.

SGS (Infrastructure) juga dapat diterima dengan baik mengingat Singapura adalah salah satu dari hanya sembilan pasar berdaulat yang memiliki nilai tertinggi dari tiga lembaga pemeringkat utama. Singapura juga merupakan satu-satunya pasar dengan peringkat AAA yang tidak memiliki imbal hasil yang disesuaikan dengan inflasi negatif.

"Dalam lingkungan saat ini, ada kelangkaan obligasi pemerintah dengan peringkat AAA. [Obligasi] berperingkat sebagai salah satu yang tertinggi di dunia. Bagaimanapun, kekhawatiran terhadap kurangnya permintaan lantaran panjangnya tenor terbukti tidak berdasar," tulis Eugene Leow, ahli strategi suku bunga senior DBS Bank Ltd. di Singapura, dalam sebuah catatan pekan lalu.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi surat utang singapura

Sumber : Bloomberg

Editor : Nindya Aldila

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top