Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Banjir Keramik Impor China dan India, Industri Lokal Ingin Safeguard Diperpanjang

Asosiasi Aneka Keramik Indonesia berharap pemerintah memperpanjang safeguard terhadap impor keramik dari China dan India.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 06 September 2021  |  11:19 WIB
Banjir Keramik Impor China dan India, Industri Lokal Ingin Safeguard Diperpanjang
Suasana pada pameran industri bahan bangunan dan Keramik bertajuk Megabuild Indonesia & Keramika 2019 di Jakarta, Jumat (15/3/2019). Pameran yang menghadirkan lebih dari 500 merek ternama dalam industri bahan bangunan, arsitektur, dan desain interior serta jasa konstruksi dari 14 negara ini digelar sejak 14-17 Maret 2019 ini mempertemukan para investor. - BISNIS.COM

Bisnis.com, JAKARTA - Industri keramik dalam negeri menantikan perpanjangan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) atau safeguard untuk menghalau serbuan produk impor. Safeguard sebelumnya, berupa pengenaan BMTP sebesar 19 persen hingga 23 persen akan berakhir Oktober 2021 setelah tiga tahun diberlakukan.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto mengatakan membanjirnya produk impor terutama berasal dari China dan India.

Dia menyebut pada paruh pertama tahun ini, angka impor dari kedua negara tersebut tumbuh 62 persen. Sedangkan China menjadi yang paling mengkhawatirkan dengan pertumbuhan impor 101 persen dan India mengekor dengan kenaikan 18 persen.

"Hal tersebut dikarenakan menurunnya angka persentase pengenaan safeguard pada level 19 persen pada tahun ketiga yang mana akan berakhir pada Oktober 2021 ini," ujarnya, kepada Bisnis, Senin (6/9/2021).

Adapun usulan Asaki, besaran bea masuk harus lebih besar dari sebelumnya yakni minimal 35 persen hingga 40 persen. Dia melanjutkan perpanjangan safeguard akan mendukung industri keramik nasional yang sampai saat ini masih memiliki idle capacity atau kapasitas menganggur sebesar 25 persen atau sekitar 125 juta m2.

"Angka tersebut menunjukkan kemampuan Asaki untuk mensubstitusi semua kebutuhan keramik impor yang berkisar 70 hingga 80jt m2 per tahun," katanya.

Untuk sisa tahun ini, Edy mengaku cukup optimitis memenuhi target utilisasi industri 70 persen dengan mengoptimalkan pasar dalam negeri melalui kerjasama dengan Real Estate Indonesia (REI) dan asosiasi pengembang lainnya dalam pemanfaatan produk bahan bangunan lokal.

Faktor pendukung lain pelarangan produk impor bahan bangunan untuk kontruksi dan properti oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta peningkatan kompetensi dan kemampuan SDM melalui vokasi pendidikan keramik setara D1 oleh Kementerian Perindustrian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur keramik
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top