Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Biaya Logistik Tinggi, SCI Usulkan Perbaikan Infrastruktur

Selain perlu perbaikan kualitas infrastruktur jalan, Indonesia menghadapi tantangan peningkatan railroad density.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 12 Agustus 2021  |  14:46 WIB
Biaya Logistik Tinggi, SCI Usulkan Perbaikan Infrastruktur
Truk logistik melewati jalan tol di Tb Simatupang, Jakarta, Rabu (28/4/2021). - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Supply Chain Indonesia (SCI) mengusulkan perbaikan kualitas infrastruktur jalan guna menurunkan biaya logistik. Pasalnya, biaya logistik yang mencapai 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) mengakibatkan Indonesia kurang bersaing dengan negara-negara lain.

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan evaluasi atas daya saing dan kondisi infrastruktur Indonesia bisa mengacu pada The Global Competitiveness Index yang dikeluarkan World Economic Forum secara berkala.

Dia menjelaskan, berdasarkan The Global Competitiveness Index 4.0 2019, Indonesia berada pada peringkat 50 dari 141 ekonomi atau turun 5 peringkat dari tahun sebelumnya.

"Analisis atas infrastruktur Indonesia berada pada peringkat 72. Untuk pilar infrastruktur, khususnya konektivitas, peringkat terendah pada konektivitas jalan, diikuti liner shipping connectivity," jelasnya dalam siaran pers, Kamis (12/8/2021).

Bukan itu saja, selain perlu perbaikan kualitas infrastruktur jalan, menurut Setijadi Indonesia menghadapi tantangan peningkatan railroad density terkait wilayah yang luas. Efisiensi pelayanan juga perlu ditingkatkan baik untuk transportasi udara maupun pelabuhan.

Oleh karenanya, dia merekomendasikan perencanaan dan pembangunan infrastruktur tidak hanya berorientasi terhadap output, tetapi juga harus terhadap outcome dan impact.

"Seperti dalam pembangunan pelabuhan, orientasi seharusnya tidak hanya hasil fisik pelabuhan, namun juga terhadap volume barang yang ditangani, bahkan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah," ujarnya.

Sementara itu Setijadi menambahkan, pembangunan infrastruktur juga harus terintegrasi dengan program-program terkait lainnya, sehingga membutuhkan kolaborasi dan sinergi antar pihak, seperti Kementerian PUPR, Kemenhub, Kementerian ESDM, serta perusahaan BUMN dan swasta.

Menurut dia, kolaborasi dan sinergi tersebut juga perlu melibatkan kementerian terkait produk atau komoditas, seperti Kemenperin, Kementan, dan KKP. Pemda setempat juga harus terlibat dalam upaya peningkatan daya saing produk/komoditas dan pertumbuhan ekonomi wilayahnya.

"Perencanaan pembangunan infrastruktur, terutama logistik, seharusnya dituangkan dalam suatu rencana induk jangka panjang agar bisa menjadi acuan, baik bagi kementerian terkait, pemerintah daerah, dan pelaku usaha," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan biaya logistik Indonesia sebelas persen lebih mahal dari rata-rata biaya logistik dunia yang hanya 13 persen. 

Erick menyebut biaya logistik Indonesia yang mahal disebabkan oleh fasilitas infrastruktur dalam negeri yang kurang memadai, sehingga infrastruktur BUMN tetap harus diperbaiki meski di tengah pandemi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logistik produk domestik bruto
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan
Konten Premium

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top