Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Kimia Indonesia Masih Tergantung Impor

Satu bahan baku kimia yang kerap digunakan dalam industri pengolahan adalah soda ash. Indonesia membutuhkan 1,2 juta ton soda ash setiap tahun, di mana 90 persen di antaranya impor.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 22 Juni 2021  |  08:10 WIB
Industri Kimia Indonesia Masih Tergantung Impor
Ilustrasi soda abu. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri kimia Indonesia menyatakan saat ini hampir semua kebutuhan kimia di dalam negeri dipenuhi dari luar negeri alias impor. Satu di antaranya adalah soda ash yang merupakan bahan baku produk-produk yang dibutuhkan masyarakat, seperti deterjen, pasta gigi, hingga kaca, gelas dan cermin.

"Saat ini banyak produk yang dibutuhkan masyarakat berbahan baku soda ash yang pemenuhannya didominasi impor," kata Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri Hari Supriyadi, Selasa (22/6/2021).

Hal itu disampaikan Hari  saat konferensi pers virtual terkait Lomba Esai Nasional yang Diselenggarakan Dalam Rangka memperingati 80 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik Kimia di Indonesia, Senin (21/6/2021).

Adapun selain produk-produk yang saat ini banyak digunakan, kata Hari, kendaraan listrik yang disebut-sebut merupakan transportasi masa depan pun membutuhkan soda ash atau natrium karbonat untuk pembuatan baterainya.

"Untuk baterai mobil listrik juga menggunakan soda ash. Jadi sangat banyak turunan dari soda ash. Tapi kenapa Indonesia masih impor," katanya 

Dia menyebutkan dalam setahun Indonesia membutuhkan sekitar 1,2 juta ton soda ash dan dari jumlah itu, 90 persen dipenuhi dari hasil impor.

Menurut dia, kebutuhan ini akan terus meningkat terutama jika penggunaan kendaraan listrik sudah semakin banyak.

Sebagai contoh, kata dia, kebutuhan soda ash di Tiongkok terus meningkat hingga dua juta ton per tahun. Oleh karena itu, dia berharap Indonesia mampu memenuhi kebutuhan soda ash sendiri sehingga tidak perlu impor lagi.

"Kita rindu memiliki industri kimia soda ash," katanya. 

Dia menilai, untuk mewujudkan hal itu sangat memungkinkan terutama mengingat Indonesia memiliki bahan baku dan sumber daya manusia yang kompeten.  "Kita punya sumber daya yang kuat, kita punya banyak SDM yang mumpuni. Tapi kenapa mencari mudahnya saja dengan memilih impor," katanya.

Menurutnya, saat ini terdapat pabrik kaca terbesar di Batang Jawa Tengah yang tentunya membutuhkan soda ash dalam jumlah yang besar.

"Alangkah baik ya kalau pabrik kaca ini soda ashnya disuplai dari dalam negeri. Agar memberi nilai tambah, menghemat devisa, membuka lapangan kerja, dan banyak sekali keuntungannya," kata dia.

Dia mengatakan bahwa industri kimia termasuk soda ash pernah dibangun pada 1990-an. "Ada kendala, saat krisis ekonomi 1998. Pernah juga dibangun di NTT yang dekat dengan sumber garam (bahan baku soda ash), tetap tak bisa juga," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur impor industri kimia

Sumber : Tempo

Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top