Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asyik! Relaksasi PPnBM Kemungkinan Berlanjut hingga Tahun Depan

Rencana perpanjangan relaksasi PPnBM masih dibahas secara internal oleh Kementerian Perindustrian dan belum diusulkan ke Kementerian Keuangan atau Badan Kebijakan Fiskal (BKF).
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 24 Mei 2021  |  17:27 WIB
Dealer Auto2000. Konsumen juga bisa meminta perhitungan lebih lengkap jika ingin membeli secara kredit atau trade-in sehingga bisa mendapatkan skema pembelian yang paling pas. - Auto2000
Dealer Auto2000. Konsumen juga bisa meminta perhitungan lebih lengkap jika ingin membeli secara kredit atau trade-in sehingga bisa mendapatkan skema pembelian yang paling pas. - Auto2000

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perindustrian berencana memperpanjang masa berlaku kebijakan relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) hingga 2022.

“Iya sih, rencananya,” ujar Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian, Sony Sulaksono, kepada Bisnis, Senin (24/5/2021).

Sony menuturkan rencana itu masih dibahas secara internal oleh Kementerian Perindustrian dan belum diusulkan ke Kementerian Keuangan atau Badan Kebijakan Fiskal (BKF).

Menurutnya, studi analisis perlu dilakukan Kemenperin sebelum mengusulkan perpanjangan masa berlaku program insentif PPnBM. “Belum sama sekali [diusulkan]. Baru di tingkat internal kami. Harus ada studi analisisnya dulu,” kata Sony.

Relaksasi PPnBm dijadwalkan berlangsung hingga akhir 2021. Program yang dimulai sejak 1 Maret ini dilakukan secara periodik per tiga bulan.

Selama Maret hingga Mei, PPnBM dikenakan tarif nol persen. Adapun, Juni–Agustus ditanggung 50 persen, sedangkan September sampai dengan Desember menjadi 25 persen.

Program relaksasi PPnBM diberikan pada mobil-mobil berkapasitas 1.500 cc hingga 2.500 cc, yang diproduksi di Indonesia, serta memiliki pembelian komponen lokal minimal 60 persen.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai dampak kebijakan PPnBM terlihat dari lonjakan penjualan mobil sejak awal diskon tersebut berlaku.

“Bulan Maret saat awal diberlakukan sudah ada kenaikan 28,85 persen,” kata Menko Airlangga saat halalbihalal media secara daring belum lama ini.

Dia pun menuturkan bahwa pemerintah akan terus melanjutkan skema insentif tersebut sesuai dengan skenario yang telah ditetapkan, yakni sampai dengan akhir tahun ini.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan ritel pada Januari–April 2021, naik 5,9 persen secara tahunan menjadi 257.953 unit. Adapun, volume penjualan per bulan nyaris mendekati level normal atau sekitar 80.000 per bulan.

Namun, pulihnya penjualan ritel selama dua bulan terakhir belum cukup kuat mengatrol volume. Sepanjang Januari–April, produksi kendaraan bermotor roda empat dan lebih turun 0,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 346.523 unit.  


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

insentif pajak PPnBM
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top