Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Masyarakat Tak Percaya Pemerintah, Vaksinasi Hong Kong Tertinggal

Keengganan masyarakat mendapatkan vaksin bersumber dari ketidakpercayaan masyarakat serta tindakan keras oleh Beijing yang telah mengikis kebebasan politik.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 10 Mei 2021  |  14:28 WIB
Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam saat menerima suntikan vaksin buatan China di Hong Kong, Senin (22/2/2021). - Antara \r\n\r\n
Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam saat menerima suntikan vaksin buatan China di Hong Kong, Senin (22/2/2021). - Antara \\r\\n\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Di saat vaksinasi melaju di berbagai belahan dunia untuk mencapai kekebalan massal dan memulihkan ekonomi, kondisi berbeda tampak di Hong Kong.

Resistensi warga Hong Kong mengancam pemulihan salah satu pusat keuangan dunia itu, di tengah eksodus ekspatriat dan penduduk lokal.

Kebanyakan orang Hong Kong memilih untuk tidak divaksinasi. Padahal, Pemerintah Hong Kong telah menyediakan 29 pusat vaksinasi yang dapat dipesan dengan mudah secara online. Bahkan warga juga diperbolehkan memilih jenis suntikan vaksin apa yang akan mereka terima, antara produk buatan China seperti Sinovac Biotech Ltd., atau vaksin Pfizer-BioNTech yang paling efektif di dunia.

Menurut data Bloomberg, Hong Kong telah memvaksinasi 11,6 persen dari 7,5 juta populasinya sejak akhir Februari. Angka itu berada di belakang pusat keuangan lain seperti Inggris dengan 39,7 persen dan Singapura 19,4 persen.

Adapun di Hong Kong, begitu banyak suntikan vaksin dibiarkan tak digunakan sehingga pemerintah telah memperingatkan orang-orang bahwa beberapa akan kedaluwarsa pada September mendatang.

Sementara negara maju lain dengan pasokan vaksin yang kuat seperti Jerman, Inggris atau Amerika Serikat melihat keengganan vaksin sebagai tantangan untuk diatasi kemudian dalam dorongan inokulasi mereka. Hong Kong telah menghadapi skeptisisme ini sejak awal.

Penyerapan yang lambat kemungkinan akan semakin menunda kembalinya kota ke keadaan normal, dan merusak daya tariknya sebagai pusat bisnis di tengah tanda-tanda eksodus ekspatriat dan penduduk lokal.

Dilansir Bloomberg, Senin (10/5/2021), Kepala Eksekutif Otoritas Moneter Hong Kong Eddie Yue mengatakan tingkat vaksinasi yang rendah di kota itu dapat membuat perusahaan internasional menimbang ulang apakah akan mendirikan pusat bisnis di kota itu.

Keengganan vaksin umumnya lebih tinggi di wilayah Asia-Pasifik, di mana keberhasilan penanggulangan awal berarti bahwa orang tidak terlalu takut pada Covid-19. Hong Kong telah melihat kurang dari 12.000 kasus dan 210 kematian sejak pandemi dimulai, sedangkan negara-negara lain seperti Taiwan, Singapura, Selandia Baru dan Australia juga kurang terpengaruh oleh pandemi.

Keengganan masyarakat mendapatkan vaksin bersumber dari ketidakpercayaan masyarakat serta tindakan keras oleh Beijing dan otoritas lokal yang telah mengikis kebebasan politik.

Dengan ketidakpercayaan politik yang menjalar di setiap bidang kehidupan Hong Kong, beberapa orang melihat penolakan untuk mengindahkan seruan pemerintah untuk menggunakan vaksin sebagai bentuk perlawanan, terutama karena pembatasan Covid-19 dan undang-undang keamanan nasional berarti bentuk-bentuk perbedaan pendapat sebagian besar telah dihilangkan.

Elaine Tsui, dosen psikologi kesehatan di Hong Kong Baptist University mengatakan keraguan vaksin didorong oleh 3 faktor psikologis, yakni kenyamanan, kepuasan diri, dan kepercayaan diri.

Fasilitas vaksinasi di Hong Kong memang nyaman, tetapi ada rasa puas diri yang tinggi karena persepsi bahwa Covid-19 tidak menimbulkan ancaman kesehatan yang signifikan bagi penduduk.

Dengan tingkat ketidakpercayaan pada pemerintah yang lebih parah di Hong Kong daripada banyak tempat lain karena peristiwa beberapa tahun terakhir, orang lebih rentan tidak hanya terhadap skeptisisme vaksin, tetapi juga konspirasi dari setiap inisiatif kesehatan masyarakat yang terkait dengan pemerintah.

Di Hong Kong, insiden medis atau kematian di antara orang-orang setelah mereka divaksinasi dilaporkan secara luas, meskipun beberapa hanya memiliki sedikit kaitan dengan suntikan.

Untuk memicu minat pada vaksinasi, pemerintah Hong Kong telah melonggarkan aturan jarak sosial bagi orang yang divaksinasi, memungkinkan mereka mengunjungi bar dan berkumpul dalam kelompok yang lebih besar di restoran.

Gelembung perjalanan dengan Singapura yang dijadwalkan pada akhir bulan juga hanya akan dibuka untuk penduduk Hong Kong yang divaksinasi.

Namun, langkah-langkah tersebut tidak meningkatkan tingkat vaksinasi secara signifikan. Pada Jumat pekan lalu, pemerintah mengumumkan bahwa orang yang divaksinasi juga akan menjalani masa karantina yang lebih singkat jika mereka ditemukan dekat dengan orang yang terinfeksi atau bepergian dari beberapa tempat berisiko rendah hingga sedang.

Sementara para ahli mengatakan bahwa insentif yang lebih kuat diperlukan, seorang penasihat pemerintah menyarankan suasana ketidakpercayaan Hong Kong membatasi pilihan kebijakan mereka.

"Karena tingkat kepercayaan tidak tinggi, jadi kami tidak bisa mendorongnya seperti di China daratan atau di tempat lain, jadi kami harus melakukannya secara sukarela dan setiap individu harus memutuskan sendiri,” kata Lam Ching Choi, seorang dokter dan penasihat untuk Pemimpin Hong Kong.

Ini adalah posisi yang sangat sulit bagi pemerintah. Pemerintah sekarang menjangkau selebriti lokal untuk meyakinkan orang agar divaksinasi. Sekretaris Layanan Sipil Patrick Nip secara terbuka berterima kasih kepada miliarder Hong Kong Li Ka-Shing karena telah mempublikasikan di halaman Facebook yayasannya bahwa dia menerima suntikan BioNTech dan meminta orang lain untuk melakukannya juga.

Tetap saja, sebagian besar populasi tampaknya masih tetap resisten, bahkan pekerja medis garis depan berisiko terinfeksi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hong kong vaksinasi

Sumber : Bloomberg

Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top