Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

RI Buka Pintu bagi Wisman, Ini Komentar Pengusaha Hotel dan Restoran  

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat okupansi hotel di Kepulauan Riau dan Bali tercatat mengalami penurunan paling parah selama pandemi Covid-19.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 13 April 2021  |  12:51 WIB
Sejumlah perwakilan agen perjalanan pariwisata berswafoto dengan penari saat travel gathering bertajuk We Love Bali di kawasan Pantai Pandawa, Badung, Bali, Jumat (4/9 - 2020). \r\n
Sejumlah perwakilan agen perjalanan pariwisata berswafoto dengan penari saat travel gathering bertajuk We Love Bali di kawasan Pantai Pandawa, Badung, Bali, Jumat (4/9 - 2020). \\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Dibukanya kembali pintu bagi wisatawan mancanegara diharapkan dapat memberikan efek yang signifikan bagi pelaku usaha hotel dan restoran. 

Pelaku usaha hotel dan restoran pun dikatakan sudah dalam kondisi siap untuk menyambut turis asing dalam waktu dekat. 

Sekretaris Jenderal Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan dibukanya kembali industri pariwisata nasional bagi turis asing menjadi solusi. Sebab, momentum hari raya Idulfitri hampir dipastikan hilang dengan adanya pembatasan mobilitas melalui pelarangan mudik.

"Untuk daerah Bintan, Batam, dan Bali khususnya. Kami berharap pembukaan bagi wisatawan asing akan memberikan efek yang signifikan dari kunjungannya," ujar Maulana ketika dihubungi, Selasa (13/4/2021).

Sampai dengan saat ini, lanjutnya, hotel dan restoran di daerah tersebut masih mengalami kesulitan akibat rendahnya sisi permintaan. Selama ini industri pariwisata Tanah Air masih mengandalkan wisatawan domestik yang hanya memiliki momentum 3 kali dalam satu tahun.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat okupansi hotel di Kepulauan Riau dan Bali tercatat mengalami penurunan paling parah selama pandemi Covid-19. Okupansi hotel di Kepulauan Riau pada 2020 turun secara tahunan dari 50,80 persen menjadi 25,30 persen.

Penurunan yang dialami hotel-hotel di Bali pada periode yang sama tercatat lebih parah, yakni dari 59,50 persen menjadi 20,80 persen. Perhotelan di Bali juga menjadi sektor dengan tingkat okupansi paling rendah tahun lalu.

Di samping itu, sambungnya, pelaku usaha hotel dan restoran sudah dalam kondisi siap untuk menyambut turis asing seiring dengan rencana pemerintah membuka pintu bagi wisatawan mancanegara pada April, Juni, dan Juli nanti.

Maulana mengatakan persiapan terkait dengan pencegahan penularan Covid-19 oleh sektor tersebut sudah cukup matang dengan penerapan prokes serta adanya sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment).

"Sebenarnya, untuk masalah kesiapan, sektor hotel dan restoran sudah cukup matang. Sebab, dalam menjalankan protokol kesehatan kita sudah siap. Ditambah lagi, dengan adanya setifikasi CHSE," ujar Maulana.

Saat ini, lanjutnya, pelaku usaha hanya menunggu kebijakan yang jelas dari pemerintah terkait dengan pembukaan pintu masuk bagi wisatawan asing. Terutama, kebijakan yang bisa memastikan penyebaran virus Covid-19 tidak terjadi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali phri travel bubble
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top