Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Banjir Insentif, Saatnya Beli Properti di Tengah Optimisme

Rentetan insentif membangkitkan optimisme bahwa bisnis properti bakal memiliki prospek cerah pada masa mendatang meski saat ini masih diterpa badai Covid-19. End user ataupun investor melihat sekarang merupakan waktu yang tepat untuk membeli properti.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 29 Maret 2021  |  22:04 WIB
Ilustrasi pembangunan perumahan bersubsidi di Bogor, Jawa Barat./Antara - Yulius Satria Wijaya
Ilustrasi pembangunan perumahan bersubsidi di Bogor, Jawa Barat./Antara - Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, JAKARTA – Rumah.com menyebutkan saat ini menjadi waktu yang tepat untuk membeli rumah karena sejumlah stimulus dan insentif yang diberikan pemerintah.

Setelah setahun pandemi Covid-19, pemerintah dan otoritas moneter meluncurkan berbagai kebijakan dan stimulus untuk mendorong kebangkitan industri properti.

Sebelumnya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 17-18 Februari 2021 lalu memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 3,50 persen. Keputusan ini kemudian dipertahankan dalam RDG Bank Indonesia pada 18 Maret 2021.

BI juga memutuskan untuk melonggarkan rasio loan to value/financing to value (LTV/FTV) kredit/pembiayaan properti menjadi paling tinggi 100 persen untuk semua jenis properti alias uang muka 0 persen.

Stimulus terakhir yang dikucurkan pemerintah adalah dengan memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas pembelian rumah tapak dan rumah susun.

Country Manager Rumah.com MarineNovita mengatakan Rumah.com menyambut baik adanya tiga kebijakan dan stimulus tersebut yang diharapkan bisa menjadi angin segar untuk menggairahkan kembali industri properti yang tertekan pandemi.

Dia mengatakan kebangkitan sektor properti cukup penting bagi pemulihan ekonomi nasional, mengingat multiplier effect dari industri properti terdapat 174 industri ikutan dan 350 jenis industri kecil terkait.

Penurunan BI7DRR menjadi 3,50 persen tersebut tercatat sebagai rekor suku bunga acuan terendah sepanjang sejarah sejak adanya BI7DRR.

Sementara itu, penetapan LTV dan FTV sebesar 100 persen untuk kredit properti memungkinkan konsumen tidak perlu lagi membayar uang muka, sedangkan dengan pembebasan PPN ditujukan untuk meningkatkan kemampuan konsumsi masyarakat kelas menengah dalam hal kepemilikan rumah.

Menurut Marine, dari tiga kebijakan pemerintah tersebut dapat dilihat pemerintah sedang berusaha keras menggenjot industri properti agar segera melakukan pembelian rumah baik rumah tapak maupun rumah susun khususnya pembelian rumah atau hunian pertama.

"Tiga kebijakan pemerintah tersebut juga menunjukkan bahwa sesungguhnya saat ini adalah kondisi termuda huntuk membeli rumah," ungkapnya.

Berbagai fakta ini juga sejalan dengan hasil survei Rumah.com Consumer Sentiment Study H1 2021 yang menunjukkan adanya sinyal optimisme dari konsumen.

Untuk pertama kalinya pasca pemilu 2019 para pencari properti kembali menunjukan peningkatan sentimen positif terhadap iklim properti, tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Responden merasa lebih optimis terhadap kondisi pasar properti, persepsi suku bunga, dan upaya serta kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah.

Rumah.com Consumer Sentiment Study adalah survei berkala yang diselenggarakan dua kali dalam setahun oleh Rumah.com bekerja sama dengan lembaga riset Intuit Research, Singapura. Hasil survei kali ini diperoleh berdasarkan 1078 responden dari seluruh Indonesia yang dilakukan pada bulan Juli hingga Desember 2020.

Survei ini dilakukan oleh Rumah.com sebagai portal properti terdepan di Indonesia untuk mengetahui dinamika yang terjadi di pasar properti di Tanah Air.

Menurut Marine, kebijakan dan stimuluspemerintah tersebut, juga sesuai dengan hasil Rumah.com Consumer Sentiment Study H1 2021 dimana 85 persen responden menyatakan keinginannya agar pemerintah mengeluarkan kebijakan dan tindakan terutama agar bisa menurunkan suku bunga KPR, sementara 67 persen responden mengemukakan harapan agar pemerintah bisa menurunkan besaran uang muka.

"Selain itu ketidakmampuan membayar uang muka memang menjadi hambatan konsumen atau kesulitan yang dihadapi ketika mengambil KPR. Hal tersebut seperti dinyatakan oleh 42 persen responden survei Rumah.com Consumer Sentiment Study H1 2021. Angka tersebut merupakan penurunan dari 51 responden pada survei semester sebelumnya," tutur Marine.

Dia menuturkan membayar uang muka KPR memang menjadi masalah tersendiri bagi sebagian konsumen, oleh karena itu berbagai strategi dilakukan untuk mempersiapkan uang muka pembelian properti.

Sebagaimana hasil survei Rumah.com Consumer Sentiment Study H1 2021, mayoritas atau 59 persen responden menyatakan mereka mulai menabung sebelum mencari rumah.

Kemudian 25 persen responden menyatakan bahwa mereka mulai menabung setelah memperkirakan biaya untuk membeli rumah. Sementara 11 responden mulai menabung setelah memutuskan properti yang akan dibeli dan 5 persen responden meminta dana dari orang tua maupun keluarga untuk membayar uang muka.

"Strategi mulai menabung sebelum mencari rumah paling banyak dipilih oleh konsumen berpenghasilan tinggi, sedangkan strategi mulai menabung setelah memperkirakan biaya untuk membeli rumah paling banyak dipilih oleh konsumen berpenghasilan rendah," tuturnya.

Marine menjelaskan bahwa penurunan BI7DRR menjadi 3,75 persen pada kuartal IV/2020 lalu telah mendorong turunnya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA).

Secara kuartalan, masing-masing suku bunga kredit mengalami penurunan sebesar tiga dan dua bps menjadi masing-masing 8,32 persen.

“Penurunan suku bunga KPR dan KPA memang belum sebesar penurunan BI7DRR. Meski demikian, kita sudah melihat upaya bank yang menurunkan suku bunga KPR sebesar 15 bps pada Juli hingga Oktober dimana pada saat itu BI7DRR stagnan di 4 persen. Kita berharap bank terus melakukan penyesuaian suku bunga KPR dan KPA apalagi dengan adanya penurunan BI7DRR menjadi 3,5 persen dan kebijakan DP rumah 0 persen," ujarnya.

Marine menambahkan bahwa adanya kebijakan penurunan BI7DRR, DP Rumah Nol Persen dan insentif PPN dari pemerintah membuat pasar properti menjadi semakin kondusif bagi konsumen.

Apalagi sesuai dengan data Rumah.com Indonesia Property Market Index Q1/2021 di mana pada kuartal IV/2020 terjadi penurunan harga properti, kenaikan suplai, dan turunnya permintaan secara nasional.

Data Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI) ini memiliki akurasi yang cukup tinggi untuk mengetahui dinamika yang terjadi di pasar properti di Indonesia, karena merupakan hasil analisis dari 400.000 listing properti dijual dan disewa dari seluruh Indonesia, dengan lebih dari 17 juta halaman yang dikunjungi setiap bulan dan diakses oleh lebih dari 5,5 juta pencari properti setiap bulannya.

Turunnya harga properti dan naiknya suplai properti menunjukkan bahwa pasar properti masih berada dalam situasi buyer’s market.

"Bagi konsumen yang sudah siap secara finansial, inilah saat termudah untuk membeli hunian. Pembeli rumah pertama akan dimanjakan oleh melimpahnya pilihan properti dengan harga yang bersaing, fasilitas DP rumah 0 persen dan pembebasan PPN 100 persen," tuturnya.

Pemerintah memang sedang berusaha keras untuk memulihkan perekonomian melalui pemberian insentif berupa diskon atau pembebasan PPN.

Selain di sektor properti, insentif juga diberikan untuk sektor otomotif dengan relaksasi PPnBM Kendaraan Bermotor untuk mobil dengan tipe sedan dengan kapasitas mesin di bawah 1500 cc dan diproduksi di dalam negeri.

Dua insentif tersebut diharapkan bisa menurunkan harga jual hunian dan kendaraan bermotor sehingga bisa mendorong penjualan rumah atau apartemen dan mobil.

Bagi generasi milenial dan generasi Z, adanya kemudahan membeli rumah dan mobil harus dipertimbangkan dengan hati-hati.

"Sebaiknya mereka menginvestasikan dana yang mereka miliki untuk sesuatu yang lebih produktif. Sebagai contoh apabila mereka mau membeli hunian, hal ini bisa sebagai bentuk investasi masa depan karena akan menjadi aset yang nilainya akan naik berlipat-lipat saat mereka sudah berusia 40 tahunan," tuturnya.

Terlebih menurut hasil survei Rumah.com Consumer Sentiment Study H1 2021, ketika diberikan pertanyaan prioritas keuangan apa yang akan diambil dalam setahun ke depan, sebagian besar generasi milenial akan terus menabung untuk bisa membeli rumah sebagaimana dinyatakan oleh 77 persen responden. Lalu 68 persen responden lainnya akan membelanjakan untuk kebutuhan keluarga dan 61 persen responden lainnya untuk kebutuhan pendidikan. Sementara hanya 19 persen responden yang ingin membeli mobil.

Marine menjelaskan berbagai kebijakan dan stimulus dari pemerintah tersebut, menjaga sentimen para pemangku kepentingan di bidang properti tetap positif.

Membaiknya pasar properti sampai awal tahun 2021 ini menunjukkan bahwa kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah memang membawa dampak positif terhadap pasar dan perkembangan industri properti di Tanah Air. Adanya kebijakan dan stimulus pemerintah menunjukkan bahwa sesungguhnya saat ini merupakan waktu yang paling mudah untuk membeli hunian.

Marine mengatakan pengembang  tentu juga tidak menutup mata terhadap kondisi pasar dan berbagai kemudahan bagi konsumen saat ini, sehingga mereka juga melakukan penyesuaian target pasar dengan memperbesar suplai untuk kalangan menengah.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti
Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top