Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ada Kampanye Benci Produk Impor, Industri Lokal Sudah Siap?

Kontribusi Indonesia dalam rantai suplai global disebut hingga saat ini masih rendah.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 08 Maret 2021  |  16:15 WIB
Ada Kampanye Benci Produk Impor, Industri Lokal Sudah Siap?
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menilai tingkat kesiapan industri lokal dalam mensubtitusi barang impor masih rendah.

Ia mengatakan utilisasi industri lokal sebelum pandemi jarang mencapai level 80 persen. Akibat pandemi Covid-19, tingkat utilisasi industri lokal diperkirakan semakin menurun.

“Rendahnya utilisasi ini bisa menyebabkan ketidaksiapan produk lokal dalam mensubtitusi produk impor,” katanya dalam konferensi pers virtual, Senin (8/3/2021).

Dengan demikian, menurut Ahmad, permintaan produk impor terutama barang konsumsi akan mengalir semakin deras. Hal itu akan terjadi jika pemerintah tidak membuat aturan terkait dengan barang impor yang masuk melalui e-commerce.

Ahmad memaparkan, dari sisi daya saing Indonesia dalam rantai suplai, ekspor Indonesia untuk produk yang bernilai tambah tinggi hingga saat ini masih rendah.

“Kita terus berkutat di ekspor yang bernilai tambah rendah dari waktu ke waktu, beda dengan negera tetangga yang dulu ekspor barang bernilai tambah rendah, sekarang sudah banyak ekspor produk bernilai tambah tinggi,” jelasnya,

Dalam rantai pasok global, jelasnya, posisi Indonesia masih rendah dibandingkan dnegan negara lain. Ini tecermin dari global participation index Indonesia yang hanya tercatat sebesar 43,5 persen.

Lebih lanjut, nilai tambah luar negeri dalam ekspor Indonesia juga masih tertinggal jauh dari negara-negara Asean lainnya. Nilai tambah Indonesia tercatat hanya sebesar 12 persen, sedangkan Singapura sebesar 41,7 persen, Thailand 39 persen, dan Malaysia 41 persen.

Di samping itu, posisi Indonesia dalam GVC (global value chain) pun masih dalam transisi dari komoditas ke limited manufacturing. Posisi ini setara dengan negara-negara seperti Ethiopia dan Kenya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor daya saing industri
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top