Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bisku Neo, Inovasi Pangan Bergizi untuk Darurat Bencana

Bisku Neo adalah merek produk pangan yang dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Bisku Neo dibuat sebagai alternatif bagi mi instan yang biasa diandalkan dalam pemberian bantuan bagi korban bencana alam di Indonesia.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 25 Februari 2021  |  13:44 WIB
Bisku Neo. Produk pangan ini mengandung zat aktif atau immuno stimulant untuk mempertahankan kekebalan tubuh dan telah diuji secara in-vitro.  - BPPT
Bisku Neo. Produk pangan ini mengandung zat aktif atau immuno stimulant untuk mempertahankan kekebalan tubuh dan telah diuji secara in-vitro. - BPPT

Bisnis.com, JAKARTA - Hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya sejak Sabtu (20/2/2021) mengakibatkan beberapa wilayah dilanda banjir, termasuk Jakarta dan sekitarnya.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pun memberikan bantuan kepada para korban yakni berupa Bisku Neo yang merupakan inovasi pangan darurat bencana yang diyakini mampu memenuhi pasokan makanan untuk para korban banjir.

"Terimakasih kepada BPPT yang menyediakan makanan bernutrisi tinggi ini," ujar Camat Serpong Utara Bani Khosyatullah seperti dikutip dalam keterangan pers BPPT, Kamis (25/2/2021).

Bisku Neo yang disalurkan kali ini sebanyak 3.240 pieces. Setiap bungkus memiliki nilai kalori 170kkal serta tinggi vitamin dan mineral yang dapat menemuhi 80 persen AKG harian. Karena biskuit satu ini memiliki kandungan protein di dalamnya, tentunya sangat baik untuk menjaga kesehatan tubuh.

Bisku Neo adalah merek produk pangan yang dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Bisku Neo dibuat sebagai alternatif bagi mi instan yang biasa diandalkan dalam pemberian bantuan bagi korban bencana alam di Indonesia. Mi instan dipandang bernilai gizi rendah dan tidak praktis lantaran harus dimasak terlebih dahulu.

Saat ini Bisku Neo sudah diproduksi dengan skala industri bekerja sama dengan PT Tiga Pilar Sejahtera. Biskuit ini juga sudah dimanfaatkan oleh Badan SAR Nasional bagi korban bencana. Selain itu, Bisku Neo juga dapat digunakan oleh tentara di medan perang atau yang sedang berlatih di daerah terpencil.

Hadirnya Bisku Neo ini dilatarbelakangi kondisi negara yang rawan bencana, sementara potensi bahan lokal seperti jagung, ubi, dan singkong banyak terdapat di Indonesia. Bahan aktif delima putih juga ada di sini.

Selain menjadi makanan yang mengenyangkan, juga memiliki kemampuan sebagai sumber energi dalam jumlah yang cukup. Bahkan, Bisku Neo juga mengandung bahan pangan yang telah teruji berpotensi imuno modulator.

Bisku Neo yang berarti biskuit yang mengandung nutrisi lengkap, energi tinggi, dan orisinal dalam negeri. Produk pangan ini mengandung zat aktif atau immuno stimulant untuk mempertahankan kekebalan tubuh dan telah diuji secara in–vitro.

Bisku Neo mengandung kurang lebih 500 Kkal / 100 g atau kurang lebih 25 persen dari kebutuhan konsumsi harian. Artinya, empat bungkus biskuit ini cukup mengenyangkan dan mencukupi kebutuhan harian.

Selain itu, produk ini juga mengandung protein untuk menjaga kekebalan tubuh. Hal tersebut berguna bagi kesehatan masyarakat yang tinggal di daerah bencana.

Produk ini dibuat untuk menghadapi situasi, yang mana memasak tidak dimungkinkan dan tidak tersedianya air bersih. Yang paling penting, bahan baku makanan ini dibuat dari produk lokal antara lain tepung ubi kayu, ubi jalar, jagung, tempe, dan gula.

Semua bahan dasar biskuit tersebut terbuat dari bahan lokal sehingga sangat mudah untuk diproduksi dalam jumlah yang besar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bppt biskuit
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top