Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Chatib Basri Usulkan Nilai BLT Naik jadi Rp1 Juta, demi Dongkrak Daya Beli

Isu yang dihadapi selama pandemi ini adalah daya beli yang terpukul, khususnya pada kelas menengah ke bawah.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 28 Januari 2021  |  01:36 WIB
Pengamat Ekonomi M. Chatib Basri. - FB Sri Mulyani
Pengamat Ekonomi M. Chatib Basri. - FB Sri Mulyani

Bisnis.com, JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengusulkan agar bantuan langsung tunai nilainya ditambah menjadi Rp1 juta dari Rp600.000 per keluarga.

Dia mengatakan besaran yang diberikan jangan sebesar upah minimum, tetapi jangan juga hanya sebesar Rp600.000 seperti yang dilakukan pemerintah beberapa waktu ke belakang.

"Jangan dikasih Rp600.000, naikkan, mungkin Rp1 juta misalnya 12 bulan. Itu yang ideal kalau mau daya beli kelompok menengah bawah diungkit," ujarnya dilansir Tempo.co, Rabu (27/1/2021).

Dengan demikian, dia mengatakan, pemerintah perlu menyiapkan sekitar Rp360 triliun untuk satu tahun. Menurut dia, kebutuhan tersebut bisa dipenuhi melalui anggaran PEN 2021 yang mencapai lebih dari Rp500 triliun.

Chatib juga meminta pemerintah untuk berfokus kepada program-program yang bisa dibelanjakan secara efektif untuk memulihkan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Misalnya, program bantuan langsung tunai (BLT), dukungan kepada usaha, mikro, kecil, dan menengah, dan penjaminan kredit.

Dari segi program pemulihan ekonomi nasional, Chatib melihat program yang realisasinya mendekati 100 persen adalah Bantuan Sosial, BLT, dan Program Keluarga Harapan. Untuk itu, salah satu usulan Chatib adalah memperluas program BLT ke masyarakat dengan kategori aspiring middle class.

"Apa itu, yaitu orang yang mau jadi kelas menengah tapi belum bisa, itu 120-140 juta orang angkanya. Kalau satu keluarga empat orang, itu 30-40 juta keluarga," ujarnya.

Chatib mengatakan isu yang dihadapi selama pandemi ini adalah daya beli yang terpukul, khususnya pada kelas menengah ke bawah. Biasanya, kata dia, pemerintah memberi BLT kepada masyarakat miskin dengan indikator tempat tinggal yang kurang layak maupun kemampuan untuk makan yang terbatas.

Namun, selama pandemi ini, tutur Chatib, banyak kelas menengah yang tinggal di rumah yang layak dan makan yang cukup, tetapi karena hilang pekerjaan dan mobilitas terganggu, menjadi jatuh mikin.

"Karena itu, program yang perlu dibantu bukan hanya masyarakat miskin, tapi juga kelas menengah ke bawah," tutur Chatib. "Itu bantuan BLT harus diperluas bukan hanya kelompok miskin tapi kelas menengah ke bawah."

Dia juga menyampaikan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama ini bias kepada masyarakat kelas menengah ke atas. Pasalnya, dia mengatakan orang miskin tidak bisa diminta tinggal di rumah selama pandemi.

"Orang kalau tinggal di rumah harus dibayar. Karena kalau kita tidak cukup kaya, pasti akan keluar. Itu yang menjelaskan Indonesia dan India PSBB-nya tidak bisa strict. Begitu juga dengan Amerika Latin. Harus dikompensasi," ujar Chatib Basri.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

chatib basri blt bantuan sosial daya beli pemulihan ekonomi

Sumber : Tempo.co

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top