Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekonomi Membaik, Ekspor Singapura Malah Loyo di Kuartal Ketiga. Ada Apa Nih?

Hal ini dipicu karena perdagangan minyak yang lebih rendah dan permintaan yang lebih lemah dari tahun lalu. Namun, perkiraan yang membaik menyusul prospek ekonomi dan perdagangan global sedikit lebih cerah untuk sisa 2020.
Warga Singapura bersepeda di dekat patung Marlion/ Bloomberg
Warga Singapura bersepeda di dekat patung Marlion/ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Memasuki kuartal ketiga 2020, perdagangan barang Singapura menyusut 6,3 persen secara year-on-year, melambat dari penurunan 15,3 persen pada kuartal sebelumnya.

Menyusutnya ekspor ini terjadi ketika produk domestik bruto (PDB) Singapura hanya terkontraksi 5,8 persen, atau lebih rendah dari 13,3 persen pada kuartal sebelumnya ketika negara ini menerapkan lockdown.

Dilansir Channel News Asia, Senin (23/11/2020), Enterprise Singapore dalam keterangannya hari ini mengatakan, di tengah harga minyak yang lebih rendah dibandingkan tahun lalu, perdagangan "emas hitam" turun 39,5 persen atau berkurang dari kontraksi 61,9 persen di kuartal sebelumnya. Sementara itu, perdagangan non-minyak tumbuh 0,8 persen, setelah kuartal sebelumnya turun 3,5 persen.

Adapun secara kuartalan, total perdagangan barang naik 7,5 persen pada triwulan ketiga, setelah kontraksi kuartal sebelumnya sebesar 14,4 persen. Perdagangan minyak dan nonminyak tumbuh masing-masing sebesar 38,6 persen dan 4,5 persen.

Ekspor nonminyak, yang mencakup non-oil domestic exports (NODX) dan produk reekspor nonmigas atau non-oil reexports (NORX) naik 2,8 persen secara year-on-year setelah pada kuartal kedua turun 1,9 persen. Sedangkan secara quarter-on-quarter, angkanya meningkat 5,9 persen, menyusul penurunan 7,0 persen di kuartal sebelumnya.

NODX tumbuh 6,5 persen di kuartal ketiga dari periode yang sama tahun lalu, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang naik 5,9 persen

Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspansi ekspor nonelektronik, terutama emas nonmoneter dan mesin khusus. Secara kuartalan, NODX tumbuh sebesar 1,4 persen, menyusul penurunan 3,0 persen pada triwulan sebelumnya.

Sedangkan ekspor produk nonelektronik yang mencakup 77 persen dari total NODX, tumbuh 5,7 persen sepanjang tahun di kuartal ketiga, mengikuti kenaikan 4,6 persen pada triwulan kedua.

Di antara barang nonelektronik, emas nonmoneter tumbuh pada tingkat tertinggi yakni 87,8 persen, diikuti oleh mesin khusus (40,1 persen) dan olahan makanan (14,4 persen).

Ekspor elektronik tumbuh 9,5 persen di kuartal ketiga, lebih rendah dari pertumbuhan 10,6 persen yang tercatat di kuartal sebelumnya.

Kontribusi terbesar untuk peningkatan NODX elektronik berasal dari sirkuit terintegrasi, produk media disk dan perangkat telekomunikasi, yang tumbuh masing-masing sebesar 12,0 persen, 16,5 persen dan 14,8 persen.

NODX ke 10 pasar teratas tumbuh pada kuartal ketiga, meskipun ekspor ke Hong Kong, Indonesia dan Thailand turun.

Kontributor terbesar untuk pertumbuhan NODX adalah AS (42,6 persen), Uni Eropa 27 (28,5 persen) dan China (8,3 persen).

Sementara itu, angka keseluruhan untuk tahun itu diperkirakan akan menurun karena perdagangan minyak yang lebih rendah dan permintaan yang lebih lemah dari tahun lalu.

Namun, Enterprise Singapura menyesuaikan perkiraan tahun ini untuk total perdagangan, yakni pertumbuhan -7,5 persen hingga -7 persen dan NODX 4 persen hingga 4,5 persen. Tahun depan, proyeksi pertumbuhan berada pada 1 persen hingga 3 persen untuk total perdagangan barang dan 0 persen hingga 2 persen untuk NODX.

Perkiraan yang membaik menyusul prospek ekonomi dan perdagangan global sedikit lebih cerah untuk sisa 2020.

"Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global 2020 menjadi -4,4 persen, karena ekonomi dibuka kembali secara tentatif," kata Enterprise Singapore.

Selain itu, prospek pertumbuhan untuk beberapa mitra dagang utama Singapura seperti China, AS, Kawasan Euro, dan Jepang juga naik.

"Di sisi perdagangan, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) merevisi pertumbuhan volume perdagangan barang dagangan dunia 2020 naik menjadi -9,2 persen, dari perkiraan sebelumnya -12,9 persen," tambahnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Reni Lestari
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper