Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Travel Bubble Hong Kong-Singapura Ditunda, Rebound Penerbangan Terpukul

Travel bubble yang semula akan dimulai pada 22 November 2020 diputuskan untuk ditunda menyusul lonjakan 68 kasus baru di Hong Kong pada Sabtu pekan lalu, dimana 61 diantaranya ditularkan secara lokal.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 23 November 2020  |  11:31 WIB
Pengunjung mengelilingi Rain Vortex di tengah-tengah Terminal Jewel di Bandara Internasional Changi, Singapura, Kamis (11/4/2019). - Bloomberg/Wei Leng Tay\n
Pengunjung mengelilingi Rain Vortex di tengah-tengah Terminal Jewel di Bandara Internasional Changi, Singapura, Kamis (11/4/2019). - Bloomberg/Wei Leng Tay\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Penundaan travel bubble atau gelembung perjalanan antara Singapura dan Hong Kong memukul harapan rebound bagi industri penerbangan di dua pusat keuangan itu.

Travel bubble yang semula akan dimulai pada 22 November 2020 diputuskan untuk ditunda menyusul lonjakan 68 kasus baru di Hong Kong pada Sabtu pekan lalu, dimana 61 diantaranya ditularkan secara lokal.

Sedangkan kemarin, Singapura melaporkan 12 kasus Covid-19 baru, semuanya terjadi pada wisatawan yang datang dari luar negeri. Setelah ditunda, pihak berwenang kedua negara sedang meninjau tanggal peluncuran yang baru.

Travel bubble antara dua pusat keuangan ini digadang-gadang menjadi yang pertama di dunia dan memungkinkan orang untuk bepergian dari dan ke dua tempat tersebut tanpa perlu karantina.

"Ini adalah pengingat bahwa virus Covid-19 masih bersama kita, dan bahkan saat kita berjuang untuk mendapatkan kembali kehidupan normal kita, perjalanan akan penuh pasang surut," kata Menteri Transportasi Singapura Ong Ye Kung, dilansir Bloomberg, Senin (23/11/2020).

Singapura dan Hong Kong diketahui sama-sama tidak memiliki penerbangan domestik sehingga dua maskapai pelat merahnya yakni Cathay dan Singapore Airline, sangat bergantung pada turis asing.

Pembatasan pergerakan yang ketat di Asia memang telah membantu menahan laju infeksi di kawasan ini. Jika dibandingkan dengan belahan dunia lain, negara-negara di Asia Pasifik seperti China dan Selandia Baru yang membatasi pelancong asing dan memberlakukan karantina, relatif berhasil mengendalikan pandemi.

Namun, pendekatan tersebut tak dipungkiri mengorbankan industri pariwisata dengan sektor perjalanan lintas batas yang lumpuh sama sekali.

Menurut OAG Aviation Worldwide Ltd., penahanan virus di dalam negeri telah menghasilkan 10 rute perjalanan udara domestik tersibuk di dunia yang sekarang semuanya ada di Asia. Namun sebaliknya, bagi Cathay Pacific Airways Ltd. dan Singapore Airlines Ltd. tidak ada yang bisa menyelamatkan operasi selain pembukaan perjalanan lintas batas.

Saham Cathay turun sebanyak 6,6 persen pada hari ini dan Singapore Airlines turun 1,7 persen.

Rico Merkert, profesor transportasi di sekolah bisnis Universitas Sydney mengatakan, bahkan jika koridor Hong Kong-Singapura dibuka, dorongan ke dua hub penerbangan masih akan sangat terbatas. Singapore Airlines dan Cathay akan terus berjuang karena tidak dapat terbang ke rute para pelancong yang biasanya datang dari Eropa dan AS.

"Tanpa lalu lintas pengumpan itu, gelembung-gelembung itu paling-paling akan terbatas pada populasi lokal. Perjalanan internasional akan tetap menjadi urusan yang rumit," kata Merkert.

Sementara itu, Cathay menggambarkan gelembung itu sebagai perkembangan yang sangat menggembirakan dan langkah pertama yang penting dalam kembalinya perjalanan udara internasional reguler ke dan dari Hong Kong.

Jumlah lalu lintas Cathay untuk Oktober 2020 merosot 98,6 persen dari tahun sebelumnya menjadi hanya 38.541 penumpang. Singapore Airlines mengangkut 35.500 penumpang bulan lalu, turun 98,2 persen.

"Gelembung memberikan sedikit tambahan lalu lintas internasional dalam periode sementara sampai pandemi berakhir," kata pendiri Sobie Aviation Brendan Sobie.

Dia menambahkan bahwa dampak dari rencana gelembung sebagian besar bersifat simbolis. Pemulihan penuh dalam lalu lintas udara masih akan memakan waktu beberapa tahun, bahkan dengan hadirnya vaksin.

Menurut rencana, Cathay dan Singapore Airlines akan menerbangkan perjalanan pulang-pergi masing-masing pada hari Minggu dan kemudian tiga atau empat kali seminggu hingga memulai layanan harian bulan depan. Jumlah penumpang dibatasi hingga 200 per penerbangan.

Setelah penangguhan, maskapai penerbangan menawarkan pengembalian uang atau kursi penerbangan yang mengharuskan penumpang melakukan karantina.

Menteri Transportasi Ong telah memperingatkan bahwa penutupan perbatasan adalah pertaruhan bagi masa depan Singapura. Negara kota tersebut sejauh ini telah memiliki perjanjian dengan beberapa negara untuk membuka perbatasan bagi bisnis atau perjalanan penting dalam keadaan tertentu, tetapi kesepakatan dengan Hong Kong adalah yang paling maju.

Dengan Indonesia, Singapura telah menyepakati skema Reciprocal Green Lane/Travel Corridor Arrangement (RGL/TCA) yang belaku sejak Oktober 2020.

Pelancong harus mengikuti tes Covid-19 sebelum dan setelah penerbangan, mengantongi sponsor dari lembaga pemerintahan di Indonesia atau perusahaan di Singapura, dan memiliki tiket SafeTravel.

Alexandre de Juniac, direktur jenderal Asosiasi Transportasi Udara Internasional memperkirakan lalu lintas udara secara global pada tahun ini hanya memenuhi 33 persen kapasitasnya dari level 2019.

"Dan semoga pada 50 persen hingga 60 persen pada akhir 2021," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

singapura hong kong maskapai penerbangan travel bubble

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top