Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Chairul Adi

Chairul Adi

Kandidat Doktor di Departemen Ekonomi Politik, Universitas Sydney Australia
email Lihat artikel saya lainnya

Infrastruktur Kala Resesi

Jika dibandingkan dengan negara lain, pemulihan Indonesia relatif lebih lambat. Pertumbuhan triwulanan (qtq) Indonesia merupakan terendah ketiga di antara negara anggota G-20 setelah China dan Korea Selatan.
Bisnis.com - 16 November 2020  |  14:08 WIB
Chairul Adi
Chairul Adi

Bisnis.com, JAKARTA -- Indonesia akhirnya resmi mengalami resesi menyusul rilis data BPS yang mencatat pertumbuhan ekonomi -3,49% (yoy) pada triwulan III/ 2020. Data BPS juga menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan triwulanan (qtq) sebesar 5,05%. Di satu sisi, hal ini menunjukkan bahwa periode terburuk telah terlewati dan tanda-tanda pemulihan ekonomi mulai terlihat.

Namun jika dibandingkan dengan negara lain, data tersebut menunjukkan pemulihan Indonesia relatif lebih lambat. Mengutip data dari Trading Economics, pertumbuhan triwulanan (qtq) Indonesia merupakan terendah ketiga di antara negara anggota G-20 setelah China dan Korea Selatan. Namun pertumbuhan ekonomi China sudah positif sejak triwulan sebelumnya.

Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah, khususnya dalam menentukan kebijakan terkait pemulihan ekonomi nasional. Dengan keterbatasan kapasitas fiskal saat ini, pemilihan program yang tepat sasaran menjadi sangat krusial. Salah satu sektor yang menjadi prioritas pemerintah adalah pembangunan infrastruktur. Dalam APBN 2021, sebesar Rp413,8 triliun telah dianggarkan untuk sektor itu. Angka ini setara 15% dari total belanja negara, atau lebih dari dua kali lipat alokasi anggaran 2021 untuk sektor kesehatan.

Lantas apakah prioritas ini sudah tepat? Menurut Dwight D. Eisenhower, ada dua syarat suatu pekerjaan layak diprioritaskan, yaitu penting dan mendesak. Saya rasa sebagian besar kita sepakat bahwa pembangunan infrastruktur sangat penting. Selain menyerap banyak tenaga kerja, juga menghasilkan multiplier effect yang besar bagi pertumbuhan ekonomi, pengurangan kemiskinan, dan pemerataan ekonomi.

Setelah krisis ekonomi 1997—1998, pembangunan infrastruktur mengalami stagnasi, sehingga defisit infrastruktur melebar. Akselerasi pembangunan infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir belum mampu menutup celah tersebut. Untuk itu, pembangunan infrastruktur tetap diperlukan.

Dalam situasi resesi di mana konsumsi melemah dan pelaku bisnis terancam bangkrut, belanja pemerintah berperan yang sangat krusial untuk menggerakkan perekonomian. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Dalam jangka pendek, stimulus tersebut mampu menjaga ekonomi agar tidak terperosok lebih dalam. Namun dalam jangka panjang, pemerintah perlu menyiapkan exit strategy untuk memulihkan ekonomi, setidaknya agar sama seperti kondisi sebelum krisis. Defisit fiskal yang makin lebar dan rasio utang yang tinggi perlu dibarengi belanja fiskal yang mampu memberikan multiplier effect besar bagi ekonomi.

Belanja infrastruktur diyakini merupakan pilihan yang tepat saat ini. Beberapa penelitian, misalnya oleh Auerbach dan Gorodnichenko (2012) memberikan bukti empiris yang mendukung argumen tersebut. Setali tiga uang, IMF dalam laporan Fiscal Monitor yang dirilis awal bulan ini menekankan urgensi pembangunan infrastruktur untuk pemulihan ekonomi seusai Covid-19.

Rendahnya kebutuhan ekspansi bisnis oleh sektor swasta pada saat resesi meminimalisasi potensi crowding out effect, yaitu tersedotnya likuiditas pasar keuangan untuk pembiayaan investasi oleh pemerintah, sehingga berdampak pada naiknya biaya kredit.

Dalam beberapa tahun terakhir telah banyak terobosan untuk mendukung pembangunan infrastruktur, khususnya dari aspek pembiayaan. Contohnya fasilitas availability payment dalam skema KPBU (Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha) menjadikan proyek infrastruktur menjadi lebih feasible dan menarik bagi investor.

Di pasar modal, beberapa instrumen telah dikembangkan untuk mendukung pembiayaan infrastruktur, misalnya RDPT (Reksa Dana Penyertaan Terbatas), Dinfra (Dana Investasi Infrastruktur Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif), dan obligasi daerah.

Namun, tantangan pembangunan infrastruktur bukan hanya pada masalah pembiayaan. Pemilihan proyek infrastruktur yang tepat juga sangat penting agar hasilnya lebih optimal.

Ada beberapa proyek yang bisa dijadikan pertimbangan. Pertama, proyek pemeliharaan infrastruktur. Peter McCawley dalam risetnya mengemukakan salah satu masalah pembangunan infrastruktur di Indonesia adalah rendahnya perhatian pemerintah terhadap pemeliharaan.

Kedua, infrastruktur kesehatan. Meski uji vaksin menunjukkan kemajuan menggembirakan, penyebaran Covid-19 masih akan menjadi ancaman, setidaknya sampai satu atau dua tahun mendatang. Pembangunan infrastruktur kesehatan sekaligus menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi bisa dilakukan seiring dengan pemulihan kesehatan.

Ketiga, infrastruktur digital. Pandemi Covid-19 mengakibatkan disrupsi pola pemanfaatan teknologi di seluruh lapisan masyarakat. Kebutuhan infrastruktur digital diyakini terus meningkat meski pandemi berakhir.

Keempat, infrastruktur terkait adaptasi perubahan iklim. Berbeda dengan Covid-19 yang tidak dapat diprediksi sebelumnya, ancaman perubahan iklim lebih nyata dan dapat diprediksi. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (16/11/2020)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Resesi Opini bisnis
Editor : Lukas Hendra TM
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top