Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

E-Commerce Rombak Pola Bisnis Logistik, Ini Tantangannya

Supply Chain Indonesia (SCI) menuturkan e-commerce membuat tren pengiriman barang logistik bergeser dari partai besar menjadi partai kecil dan tersebar.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 04 November 2020  |  07:34 WIB
Warehouse salah satu perusahaan e-commerce di Jakarta - Reuters
Warehouse salah satu perusahaan e-commerce di Jakarta - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Supply Chain Indonesia (SCI) menilai aktivitas perdagangan elektronik atau e-commerce telah membuat pola distribusi barang bergeser. Dari yang terbiasa pengiriman partai besar kini menjadi partai kecil dan tersebar.

Chairman SCI Setijadi mengatakan perubahan gaya hidup yang didukung perkembangan teknologi informasi dan perubahan transaksi perdagangan mendorong peningkatan volume bisnis e-commerce. Hal ini turut berpengaruh terhadap aktivitas logistik.

"Perubahan transaksi dari BtoB ke BtoC dan CtoC dalam bisnis e-commerce mengakibatkan perubahan kebutuhan layanan logistik dari penanganan dan pengiriman barang volume besar dan terjadwal menjadi penanganan dan pengiriman barang volume kecil yang sangat tersebar, serta tidak terjadwal dan semakin sulit diprediksi," ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (3/11/2020).

Lebih lanjut, penyedia jasa logistik harus menyiapkan layanan yang lebih cepat dan lincah, sehingga harus menyiapkan dan meningkatkan kapabilitas proses dan teknologi, serta kompetensi SDM.

Pada aspek teknologi dan peralatan terangnya menjadi kian penting. Kebutuhan penggunaan armada, misalnya, berubah dari armada berkapasitas besar seperti wingbox menjadi mobil boks. Selain itu, semakin banyak dibutuhkan sepeda motor untuk pengantaran langsung ke pelanggan.

"Kecepatan analisis dan proses harus didukung dengan teknologi informasi seperti big data analytics, cloud logistics, dan internet of things, termasuk robotics and automation dalam kegiatan pergudangan," ujarnya.

Perusahaan penyedia dan pengguna jasa logistik perusahaan juga perlu mengikuti perubahan pola bisnis seperti digital work, omni channel logistics, dan logistics marketplaces.

Di sisi lain, kompetensi SDM harus ditingkatkan tidak hanya meningkatkan efisiensi dan efektivitas bisnis, tetapi juga mengantisipasi perubahan pola bisnis dan perkembangan teknologi informasi.

Adapun, jelas Setijadi, pemerintah perlu memberikan dukungan kepada penyedia jasa logistik dengan memberikan insentif fiskal dan non-fiskal. Salah satunya dalam bentuk pemberian suku bunga di bawah 5 persen dengan jangka waktu yang lebih untuk pengadaan aset produktif seperti armada.

"Keringanan pajak juga perlu diberikan, seperti untuk PPN dan PBM. Pemberian insentif tersebut tidak hanya harus memperhatikan jenis dan besarannya, tetapi juga kecepatan waktunya agar tidak kehilangan momentum," urainya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logistik e-commerce
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top