Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Soal Pemulihan Industri, Ini Pandangan Chandra Asri

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. optimistis permintaan industri akan lebih baik usai kontraksi pada paruh pertama 2020 akibat Covid-19. Secara industri, perseroan melihat permintaan poliolefin domestik turun sekitar 20-30 persen yang menjadikan kodisi pasokan dalam negeri berlebih.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 23 Oktober 2020  |  12:46 WIB
Pekerja mengoperasikan mesin di komplek pabrik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), Cilegon, Banten. - Antara / Muhammad Iqbal
Pekerja mengoperasikan mesin di komplek pabrik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), Cilegon, Banten. - Antara / Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA — PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. optimistis permintaan industri akan lebih baik usai kontraksi pada paruh pertama 2020 akibat Covid-19. Secara industri, perseroan melihat permintaan poliolefin domestik turun sekitar 20-30 persen yang menjadikan kodisi pasokan dalam negeri berlebih.

VP Corporate Relations and Sustainability PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Edi Riva'i mengatakan pada paruh kedua yang masih berjalan dengan kondisi pandemi Covid-19 yang belum berakhir ini, perseroan melihat dan masih berharap terjadi perbaikan permintaan. Adapun salah satu strategi perseroan yakni menjaga pabrikan tetap berjalan meski dengan 85 persen karyawan harus melakukan kerja dari rumah.

"Kami juga melakukan strategi switch market pada pasar ekspor yang bukan pada produk komoditi tetapi added value," katanya dalam Webinar Plastics & Rubber Indonesia Digital, Jumat (23/10/2020).

Meski demikian, Edi menilai upaya menjaga kinerja positif harus didukung dengan berbagai strategi. Menurutnya, terutama tentu dari daya beli masyarakat dan insentif yang diberikan.

Hal itu, bagi Edi juga tidak akan cukup jika tidak tercipta iklim investasi dan industri yang stabil. Pasalnya, sangat penting dalam kondisi ini untuk menggerakkan ekonomi guna mendorong kenaikan konsumsi lagi.

"Kami masih optimistis meski pada akhirnya tergantung permintaan yang ada. Industri petrokimia saat ini menjadi pilar ekonomi untuk itu penting agar menjaga kondisi yang stabil karena ketika konsumsi naik maka kebutuhan akan bertumbuh," ujar Edi.

Sisi lain, emiten berkode saham TPIA itu juga tengah mengembangkan kompleks petrokimia Chandra Asri Petrochemical II (CAP II) di Cilegon dengan luas lahan 200 hektare. Adapun, proyek CAP II itu membutuhkan investasi hingga US$5 miliar atau setara dengan Rp69,39 triliun (asumsi kurs Rp13.878 per dolar AS).

Belum lama ini perseroan juga mulai mengoperasikan kedua unit pabrik MTBE dan B1 yang pertama kalinya ada di Indonesia. Konstruksi kedua pabrik berhasil diselesaikan sesuai jadwal walaupun di tengah masa pandemi.

Adapun, pabrik MTBE (Methyl Tert-butyl Ether) berkapasitas 128 KTA untuk memasok kebutuhan octane booster dalam negeri yang sampai saat ini masih diimpor, sedangkan pabrik B1 (Butene 1) berkapasitas 43 KTA akan diserap untuk kebutuhan operasional pabrik Chandra Asri sebesar 33 KTA, dengan sisanya ditargetkan untuk pasar domestik.

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian periode 2018, Indonesia masih mengimpor produk kimia methanol dari sejumlah negara termasuk turunannya yaitu MTBE maupun B1 senilai Rp174 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

chandra asri petrochemical methanol
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top