Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bos PTBA : Penghiliran Batu Bara Membutuhkan Banyak Insentif

PTBA tengah mengembangkan proyek penghiliran batu bara, yakni gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter (DME), di Tanjung Enim, Sumatra Selatan.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 21 Oktober 2020  |  19:02 WIB
Alat berat beroperasi di kawasan penambangan batu bara Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Rabu (8/7/2020). ANTARA FOTO - Syifa Yulinnas
Alat berat beroperasi di kawasan penambangan batu bara Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Rabu (8/7/2020). ANTARA FOTO - Syifa Yulinnas

Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk. Arviyan Arifin menyambut baik ketentuan dalam Undang-Undang Cipta Kerja yang mengatur mengenai pengenaan royalti sebesar 0 persen bagi pelaku usaha yang melakukan peningkatan nilai tambah batu bara.

Dia mengatakan bahwa penghilirian batu bara merupakan industri baru yang memang memerlukan banyak insentif dari pemerintah.

"Alhamdulillah, pemerintah mendorong untuk kami melakukan hilirisasi. Terbukti di UU Omnibus Law telah diberikan insentif royalti 0 persen untuk penambang batu bara, pemilik konsensi batu bara yang melakukan hilirisasi," ujar Arviyan dalam webinar Potret Energi Indonesia, Rabu (21/10/2020).

Menurutnya, pemberian insentif tersebut tidak akan merugikan negara karena pada akhirnya negara akan mendapatkan nilai tambah dari produk akhir penghiliran.

Saat ini, PTBA mengembangkan proyek penghiliran batu bara, yakni gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter (DME), di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Proyek ini direncanakan memiliki kapasitas produksi 1,4 juta ton DME per tahun.

Arviyan menjelaskan bahwa produk DME tersebut nantinya bisa dimanfaatkan sebagai subtitusi LPG dan ini akan membantu negara mengurangi ketergantungan impor LPG.

Proyek ini sekaligus bisa memanfaatkan batu bara kalori rendah yang saat ini belum ekonomis untuk dijual. Jumlah cadangan batu bara kalori rendah milik PTBA, kata Arviyan, sekitar 3 miliar ton.

"Kami sudah tanda tangan dengan perusahaan gas terbesar di Amerika Serikat untuk membangun coal gasification di Tanjung Enim. Insyaallah EPC akan kami mulai awal tahun depan dan pabrik ini akan beroperasi tahun 2024," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top