Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Corona Tak Reda, Bisnis Properti Terus Terpuruk Hingga Akhir Tahun

Konsultan properti Savills Indonesia memperkirakan bisnis properti terus menukik hingga akhir tahun meski sedikit ada angin segar berupa pemberian izin bagi WNA untuk memiliki unit apartemen.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 20 Oktober 2020  |  12:02 WIB
Wajah Properti Jakarta.  -  Bloomberg
Wajah Properti Jakarta. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Pandemi virus corona tetap akan menekan perekonomian termasuk bisnis properti, tetapi kehadiran UU Cipta Kerja diharapkan dapat meningkatkan pasar apartemen mewah, menurut konsultan properti Savills Indonesia.

Anton Sitorus, Direktur Riset dan Konsultansi Savills Indonesia, menyebutkan bahwa dengan jumlah kasus Covid-19 yang sekarang melebihi 300.000, pertumbuhan ekonomi selanjutnya diprediksi tetap negatif, karena secara teknis Indonesia masuk resesi pada kuartal III/2020.

Dia menyebutkan bahwa dengan mempertimbangkan penerapan jarak sosial yang ketat, tingkat aktivitas di sebagian besar sektor bisnis di Jakarta termasuk real estat turun drastis sejak Maret.

Pelonggaran pembatasan atau PSBB (Pembatasan Sosial Skala Besar) Transisi yang dimulai pada Juni memberikan kelonggaran bagi perusahaan dan pemilik bisnis, tetapi sebelum bisnis normal berlanjut, Pemprov DKI Jakarta memutuskan menarik rem darurat dan balik ke PSBB yang lebih ketat pada pertengahan September akibat gelombang kedua kasus Covid-19.

Pemilik properti ritel yang mengeluarkan biaya tambahan untuk prosedur normal baru di mal mereka, terus menderita karena pengunjung semakin menurun menjadi hanya sekitar 10 persen hingga 20 persen dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi Covid-19.

Sementara itu, pengembang residensial kini bergantung pada platform online dan media sosial untuk memasarkan proyek mereka.

Beberapa dari mereka telah mencapai hasil yang baik seperti Ciputra Group yang mengumpulkan total sekitar Rp250 miliar dari penjualan online proyek perumahan mereka dalam 6 bulan terakhir.

Sementara itu, pembangunan rumah tapak yang terjangkau masih berjalan, tetapi penjualan apartemen tetap sangat sepi, yang menyebabkan beberapa pengembang menawarkan proyek mereka untuk penjualan blok dengan diskon yang lebih tinggi kepada pembeli dan investor yang berminat.

Selain proyek apartemen, berbagai jenis aset saat ini ditawarkan pada nilai-nilai tertekan terutama land bank dan hotel, juga properti mal ritel. Ini akan memberikan peluang bagi investor untuk memperoleh aset bagus dengan harga menarik dengan prospek jangka panjang yang kuat.

Sementara itu, omnibus law yang ditunggu-tunggu akhirnya disetujui DPR pada 5 Oktober. Undang-undang (UU Cipta Kerja), yang diusulkan oleh pemerintahan Jokowi, bertujuan memperkuat kerangka kebijakan moneter dan fiskal Indonesia, guna mempercepat belanja infrastruktur dengan menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif.

Undang-undang baru ini meralat sekitar 80 undang-undang (UU) yang terkait dengan investasi, perizinan, ketenagakerjaan, lahan untuk pembangunan infrastruktur, perpajakan, dan administrasi pemerintahan sebagai bagian dari upaya untuk memotong birokrasi dan menyederhanakan prosedur investasi baru.

Meski mendapat protes dan tentangan dari sejumlah organisasi buruh, banyak yang menilai omnibus law akan meningkatkan daya saing Indonesia di ekonomi regional dan global.

Salah satu aspek dari undang-undang baru yang terkait dengan sektor properti adalah pelonggaran pembatasan kepemilikan properti asing.

Di bawah undang-undang baru, orang asing dengan izin kerja sekarang diperbolehkan memiliki apartemen secara strata-title dan ini diharapkan dapat meningkatkan pasar apartemen mewah yang menargetkan ekspatriat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top