Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ironis, Indonesia Subur Tapi Pengimpor Kakao

Indonesia merupakan negeri dengan tanah subur. Akan tetapi, nyatanya impor biji kakao mencapai 234.000 ton untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan pangan di dalam negeri.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 08 Oktober 2020  |  05:30 WIB
Pekerja memeriksa buah kakao di Sunggal, Deli Serdang, Sumut, Selasa (8/1).  - Bisnis.com
Pekerja memeriksa buah kakao di Sunggal, Deli Serdang, Sumut, Selasa (8/1). - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia merupakan negeri dengan tanah subur. Akan tetapi, nyatanya impor biji kakao mencapai 234.000 ton untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan pangan di dalam negeri.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan impor disebabkan karena kebutuhan yang besar tidak bisa dipenuhi sepenuhnya dari pasokan dalam negeri. Hal ini lantaran rendahnya produktivitas petani kakao. Seperti diketahui, produktivitas petani kakao saat ini ada di kisaran 0,7-0,8 ton per hektar.

"Salah satu sebab rendahnya produktivitas petani kakao saat ini adalah bibit yang berkualitas. Kemampuan budaya dan keterampilan petani [kakao lokal] juga terbatas. Kalau terserang hama sedikit, dia kesulitan," ucapnya, Rabu (8/10/2020).

Adapun, impor biji kakao per 2019 mencapai sekitar 234.000 ton. Dengan kata lain, butuh setidaknya 292.000 hektar kebun kakao atau lebih dari 190 juta bibit kakao dengan produktivitas saat ini untuk menghilangkan seluruh impor biji kakao.

Menteri Syahrul Yasin Limpo mengatakan pihaknya telah menyiapkan 1 juta bibit kakao yang siap untuk ditanam untuk mewujudkan komitmen meningkatkan pasokan biji kakao di dalam negeri pada industri pengolahan.

Adapun, pihaknya akan melakukan pertemuan dengan Kementerian Perindustrian dalam waktu dekat terkait peningkatan pasokan bahan baku industri kakao tersebut. "2,5 tahun dari sekarang kita bisa tunjuk hasil kerjanya. Saya tidak pakai teori lagi, teori sudah banyak," katanya.

Selain Kementerian Perindustrian, Yasin mengajak PT Mondelez Indonesia Manufacturing untuk berpartisipasi dalam penanaman 1 juta bibit tersebut. Adapun, pertemuan tersebut akan mendiskusikan off-taker dan lokasi penanaman 1 juta bibit kakao tersebut.

Di samping itu, Yasin menargetkan agar program tersebut dapat terlaksana paling lambat awal 2021. "Kita punya 3 bulan untuk merencanakan ini dan saya siap."

Jika 1 hektar kebun kakao bisa ditanami 600-700 pohon kakao, akan ada sekitar 1.500 hektar kebun kakao baru dengan program tersebut. Namun, hanya akan ada sekitar 1.230 ton kakao baru jika produktivitas kebun kakao masih di kisaran 0,8 ton per hektar seperti saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

produksi kakao cokelat
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top