Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Makanan Indonesia Mahal, Biaya Tersembunyi US$62,7 Miliar Selama Setahun

Food and Land Use (Folu) Co-chair for Country Programs Nirarta Samadhi mengatakan bahwa sebesar US$12 triliun gap dari biaya tersembunyi untuk seluruh dunia selama setahun.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 30 September 2020  |  23:45 WIB
Ilustrasi - Pekerja menyiapkan gula pasir untuk disalurkan ke operasi pasar dan penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Gudang Perum Bulog Sub-Divisi Regional Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Jumat (3/4 - 2020). ANTARA
Ilustrasi - Pekerja menyiapkan gula pasir untuk disalurkan ke operasi pasar dan penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Gudang Perum Bulog Sub-Divisi Regional Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Jumat (3/4 - 2020). ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - Sistem makanan global dianggap paradoks. Berdasarkan penelitian, ada biaya tersembunyi yang ditimbulkan pada pola konsumsi, produksi pangan, dan tata guna lahan.

Food and Land Use (Folu) Co-chair for Country Programs Nirarta Samadhi mengatakan bahwa sebesar US$12 triliun gap dari biaya tersembunyi untuk seluruh dunia selama setahun.

“Tanpa perubahan, ini akan meningkat US$4 triliun pada 2050,” katanya dalam diskusi virtual, Rabu (30/9/2020).

Biaya tersembunyi di Indonesia juga cukup besar. Nirarta memprediksi US$62,7 miliar dalam setahun. Jumlah ini dihitung berdasarkan hasil makanan yang diakibatkan pada lingkungan, polusi, dan kesehatan.

“Kita tahu tidak seharusnya memilih antara pertumbuhan ekonomi dan kelangsungan hidup,” jelasnya.

Romauli Panggabean Peneliti Folu mengatakan bahwa biaya tersembunyi tersebut menjadikan produk makanan yang harus dibayar lebih mahal.

“Itu karena kita harus membayar biaya tersembunyi untuk malnutrisi, kerusakan lingkungan dan sebagainya. Artinya eksternalitas negatifnya lebih besar daripada harga yang kita bayar,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi pangan makanan
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top