Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hotel untuk Isolasi OTG, Epidemiolog : Perlu Ada Aturan Jelas

Pemerintah telah menyiapkan fasilitas hotel bintang 2 dan 3 untuk isolasi untuk Orang Tanpa Gejala (OTG).
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 17 September 2020  |  14:24 WIB
Petugas mengendarai ambulans berisi pasien memasuki Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Selasa (24/3/2020). - Antara/Aditya Pradana Putra
Petugas mengendarai ambulans berisi pasien memasuki Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Selasa (24/3/2020). - Antara/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA -- Dipilihnya hotel sebagai lokasi isolasi untuk orang tanpa gejala (OTG) Covid-19 dinilai bisa menjadi alternatif untuk mencegah penyebaran wabah yang lebih luas. Meski demikian, pemerintah perlu mengatur dengan jelas protokol dan mekanisme dalam kebijakan ini.

Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, mengatakan tidak ada masalah dalam penyusunan kebijakan ini. Tetapi, dia mencatat perlu ada aturan yang jelas sebagaimana pengawasan protokol kesehatan dilakukan di tengah masyarakat.

“Pengelola hotel harus paham bagaimana manage isolasi mandiri walaupun ini ada pasien yang tidak report secara mandiri, aspek protokol agar risiko penularan ke yang lain berkurang dan pembentukan klaster baru harus bisa dicegah,” kata Dicky saat dihubungi, Kamis (17/9/2020).

Dia mengatakan perlu ada pelatihan petugas agar siap menghadapi situasi ini. Hotel yang menjadi lokasi isolasi pun tidak boleh menerima pengunjung dan hanya menerima pasien tanpa gejala.

Lebih lanjut, Dicky menjelaskan bahwa pasien tanpa gejala memiliki potensi untuk menyebarkan virus seperti pasien bergejala ringan atau berat. Oleh karena itu, pekerja hotel yang terlibat dalam operasional perlu dilatih agar tidak tertular.

“Sekali lagi harus ada aturan yang jelas, misal pasien tidak boleh melakukan pergerakan ke lantai lain, jalur mobilitas yang tersusun. Pemantauan kepada setiap pasien juga perlu diperhatikan,” lanjutnya.

Pasien tanpa gejala disebut Dicky berpotensi pula mengalami kondisi yang memburuk. Dalam hal ini, setiap hotel perlu difasilitasi dengan armada kesehatan seperti ambulans guna memudahkan langkah rujukan.

Dia juga meminta pemerintah untuk memastikan tenaga kesehatan selalu memonitor perkembangan pasien pada masa isolasi.

“Tapi sebisa mungkin [pengawasan] dilakukan tanpa kontak langsung. Misal melalui telepon untuk pelaporan harian,” kata Dicky.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dalam konferensi pers pada Senin (14/9/2020) mengatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan fasilitas hotel bintang 2 dan 3 untuk isolasi OTG.

Terawan menyebutkan terdapat 10 sampai 15 hotel di DKI Jakarta yang telah digandeng dengan kapasitas 1.500 kamar atau 3.000 orang. Pemerintah menjamin biaya isolasi ini dan menyiapkan anggaran sebesar Rp3,3 triliun.

“Ini bekerja sama dengan jaringan Grup Accor seperti Novotel, Ibis, dan lain-lain, maupun Tauzia seperti Harris dan sebagainya. Jumlah hotel ini dapat ditambah menjadi 15 sampai 30 hotel jika diperlukan,” ujar Terawan.

Terawan juga mengemukakan bahwa hotel-hotel tersebut telah menyatakan kesiapan untuk membantu pemerintah apabila isolasi di luar Jakarta diperlukan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hotel covid-19 Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top