Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Polytron Semringah Sambut Beleid Pembatasan Impor Produk Jadi

PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) mengapresiasi penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 68/2020 karena dinilai dapat menekan pangsa pasar pendingin ruangan (air conditioner/AC) impor di dalam negeri.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 07 September 2020  |  18:50 WIB
Model berpose di dekat lemari es terbaru Polytron New Belleza Inverter dan Polytron Allure saat peluncurannya, di Jakarta, Selasa (25/9/2018). - JIBI/Abdullah Azzam
Model berpose di dekat lemari es terbaru Polytron New Belleza Inverter dan Polytron Allure saat peluncurannya, di Jakarta, Selasa (25/9/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) mengapresiasi penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 68/2020 karena dinilai dapat menekan pangsa pasar pendingin ruangan (air conditioner/AC) impor di dalam negeri.

Direktur Marketing Polytron Tekno Wibowo mengatakan konsumen AC di dalam negeri akan makin dilindungi oleh Permendag 68/2020. Pasalnya, menurutnya, impor AC oleh pemain yang tidak memiliki jaringan purnajual akan berkurang.

Permendag No. 68/2020 sendiri mengenai Ketentuan Impor Alas Kaki, Elektronik, dan Sepeda Roda Dua dan Roda Tiga. Adapun, tujuan penerbitan beleid ini adalah untuk menekan impor barang konsumsi yang masuk ke pasar domestik.

"Buat produsen seperti Polytron, [Permendag No/ 68/2020] akan menguntungkan karena tidak perlu bersaing dengan importir [AC] yang tidak jelas," ujarnya kepada Bisnis, Senin (7/9/2020).

Tekno menambahkan Permendag No. 68/2020 juga akan menjadi katalis agar produsen AC asing mendirikan pabriknya di dalam negeri jika ingin terus berjualan di pasar domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata angka AC impor yang tergabung dalam pos tarif 8415.10.10 dan 8415.10.90 selalu mengalami pertumbuhan dalam 3 tahun terakhir secara volume maupun nilai. Adapun, pertumbuhan terbesar terjadi pada 2018.

Nilai impor AC per 2018 tumbuh 53,09 persen menjadi US$371,22 juta dari realisasi tahun sebelumnya senilai US$242,94 juta. Adapun, volume impor AC pada akhir 2018 tumbuh 49,34 persen menjadi 70.769 ton.

Sementara itu, volume impor pada Januari-Juli 2020 tumbuh 4,33 persen menjadi 46.601 ton, sedangkan nilai impornya tumbuh tipis 0,29 persen menjadi US$233,46 juta. Sejak 2017, harga AC impor per kilogram stabil di level US$5 per kilogram.

Di sisi lain, Tekno menyatakan produksi AC Polytron terkoreksi hingga 5 persen secara tahunan. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh tingginya stok AC di gudang peritel akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Tekno optimistis kinerja pabrikan akan kembali bergerak pada kuartal IV/2020. Namun demikian, lanjutnya, aktivitas produksi di pabrikan tidak akan berubah banyak jika PSBB kembali diperketat.

Dengan adanya pandemi Covid-19 yang telah berjalan kurang lebih 6 bulan, Tekno menyatakan pihaknya telah merevisi target produksi AC 2020. Seperti diketahui, AC berkontribusi sekitar 5 persen dari total produksi elektronika Polytron.

"Kami masih optimis recovery pada kuartal IV/2020. Harapannya [realisasi produksi] bisa tetap sama dengan tahun lalu, kalaupun turun tidak lebih dari 3 persen," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

polytron Industri Elektronik
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top