Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inikah Penyebab Terjadinya Deflasi di Sejumlah Negara?

Inflasi terjadi sebesar 0,32 persen secara quarter-to-quarter (qtq). Secara tahunan, inflasi pada Juni 2020 adalah sebesar 1,96 persen. Sementara secara bulanan, terjadi deflasi 0,10 persen.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 05 Agustus 2020  |  18:11 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto memberikan keterangan saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (1/7 - 2020).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto memberikan keterangan saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (1/7 - 2020).

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan inflasi Indonesia mengalami perlambatan pada periode Juni tahun ini.

Inflasi terjadi sebesar 0,32 persen secara quarter-to-quarter (qtq). Secara tahunan, inflasi pada Juni 2020 adalah sebesar 1,96 persen. Sementara secara bulanan, terjadi deflasi 0,10 persen.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan angka inflasi tersebut relatif rendah jika dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, fenomena ini terjadi di semua negara.

Perlambatan inflasi tersebut, katanya, dikarenakan oleh lemahnya sisi permintaan. Di samping itu, sisi pasokan juga terkendala akibat pandemi Covid-19.

"Fenomena di semua negara memang terjadi perlambatan inflasi, bahkan mengarah ke deflasi karena lemahnya permintaan dan adanya kendala dalam pasokan," katanya, Rabu (5/8/2020).

BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua tahun ini tumbuh negatif 5,32 persen secara year-on-year (yoy).

Suhariyanto mengatakan pandemi Covid-19 membawa dampak yang sangat buruk, mulai dari kesehatan hingga berdampak ke sosial dan ekonomi.

Berbagai kebijakan menurutnya telah dilakukan untuk menekan penyebaran virus corona, seperti penutupan sekolah dan beberapa kegiatan bisnis, pembatasan sosial berskala besar, bahkan lockdwon sehingga mengakibatkan penurunan tingkat konsumsi dan investasi.

Hal yang sama juga terjadi pada negara mitra dagang Indonesia. Suhariyanto menyebut ekonomi mitra dagang Indonesia juga mengalami kontraksi pada kuartal II/2020, kecuali China.

"China sudah ada recovery pada kuartal kedua dengan pertumbuhan sebesar 3,2 persen yoy," katanya.

Setali tiga uang, Amerika Serikat juga mengalami kontraksi yang dalam, yaitu sebesar -9,5 persen pada kuartal kedua 2020. Sementara itu, Singapura mengalami resesi setelah dua kuartal berturut-turut mencatatkan kontraksi, yaitu sebesar -0,3 persen pada kuartal I dan -12,6 persen pada kuartal II tahun ini.

Selain itu, Korea Selatan tercatat pertumbuhan ekonominya terkontraksi sebesar -2,9 persen setelah mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,4 persen pada kuartal pertama.

Hong Kong dan Uni Eropa pun kompak mencatatkan kontraksi dalam 2 kuartal terakhir. Ekonomi Hongkong mengalami koreksi sebesar -9,0 persen, sementara ekonomi Uni Eropa terkontraksi paling dalam dibandingkan dengan negara mitra dagang Indonesia lainnya, yaitu sebesar -14,4 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi bps deflasi
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top