Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Demi Efisiensi, Operator Bandara Bisa Integrasikan Bandara

Operator bandara nasional bisa melakukan integrasi penyatuan operasional sejumlah bandara yang berdekatan untuk efisiensi biaya selama pandemi Covid-19.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 21 Juli 2020  |  18:10 WIB
Bongkar muat bagasi di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah. - Bisnis/Abdullah Azzam
Bongkar muat bagasi di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Jawa Tengah. - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Demi efisiensi operasional di tengah pandemi virus Covid-19 dan minimnya penumpang, operator bandara disarankan mencoba opsi integrasi operasional sejumlah bandara di wilayah yang berdekatan, seperti Bandara Adisucipto di Yogyakarta dengan Bandara Adi Sumarmo di Solo.

Pengamat penerbangan Arista Atmadjati mengatakan penggabungan operasi beberapa terminal dan bandara yang berdekatan dapat menjadi salah satu opsi radikal yang dilakukan pengelola bandara untuk melakukan efisiensi.

"Penggabungan beberapa terminal misal yang berdekatan, Bandara Adi Sumarmo, Solo, Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) dan Adisucipto, Yogyakarta, bagus juga untuk efisiensi bisa dicoba," jelasnya, kepada Bisnis.com, Selasa (21/7/2020).

Menurutnya, di tengah masa pandemi ini secara regulasi pun dapat dibuat lebih fleksibel. Selama regulator mengizinkan, khusus penerbangan domestik bisa dilakukan efisiensi semacam ini.

Selain sejumlah bandara di wilayah Pulau Jawa, Bandara di kawasan Sulawesi dan Kalimantan pun dapat dicoba melakukan efisiensi semacam ini. Contohnya, Bandara Tampa Padang Mamuju, Sulawesi Barat dan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Sulawesi Selatan.

Selain itu, Bandara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Samarinda Kalimantan Timur pun dapat digabungkan operasinya dengan Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Di sisi lain, jumlah pergerakan penumpang dan pesawat di bandara terpadat di Indonesia, yakni Bandara Soekarno-hatta pun masih jauh dari kondisi normal. Data pada 1 Juli-15 Juli 2020 jumlah pergerakan penumpang baru mencapai 402.488 penumpang lebih rendah 84 persen dibandingkan dengan 2019 yang mencapai 2,5 juta penumpang di waktu yang sama.

Adapun pergerakan pesawat pada periode tersebut hanya 5.637 pesawat lebih rendah 66 persen dibandingkan dengan periode 2019 sebanyak 16.614 pergerakan.

Namun, jika 15 hari pada Juli 2020 dibandingkan dengan 15 hari pada Juni 2020 atau bulan sebelumnya, baik pergerakan penumpang maupun pesawat sudah mengalami pertumbuhan. Adapun, pergerakan pesawat terjadi peningkatan 79 persen dari sebelumnya yang hanya 3.144 pergerakan, sementara penumpang tumbuh 176 persen dari sebelumnya yang hanya 145.870 penumpang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bandara maskapai penerbangan
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top