Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia Diperkirakan Jadi Ekonomi Terbesar ke-12 Dunia pada 2100

Studi tersebut mencatat, Indonesja berada posisi ke 12 dunia mulai 2050, artinya 30 tahun dari sekarang.
Lukas Hendra TM
Lukas Hendra TM - Bisnis.com 17 Juli 2020  |  13:55 WIB
Peta
Peta

Bisnis.com, JAKARTA— Indonesia diperkirakan akan menduduki peringkat ke-12 kekuatan ekonomi dunia pada 2100 seiring dengan adanya perubahan peta populasi manusia di dunia pada tahun tersebut.

Penelitian yang dilakukan tim internasional itu dipublikasikan di jurnal The Lancet, Selasa (14/7/2020) dengan judul Fertility, mortality, migration, and population scenarios for 195 countries and territories from 2017 to 2100: a forecasting analysis for the Global Burden of Disease Study.

Studi tersebut mencatat, Indonesja berada posisi ke 12 dunia mulai 2050, artinya 30 tahun dari sekarang.

Sedangkan, pada 2030, berada pada urutan ke 14 ekonomi dunia. Per data 2017, studi itu mencatat Indonesia masih berada di urutan 16 ekonomi dunia.

Sementara itu, dalam riset tersebut, peneliti mengungkapkan sebanyak 2,37 miliar orang (lebih dari seperempat populasi global) akan berusia lebih dari 65 tahun saat itu. Mereka yang berusia di atas 80 tahun akan bertambah dari 140 juta hari ini menjadi 866 juta. Penurunan tajam dalam jumlah dan proporsi populasi usia kerja juga akan menimbulkan tantangan besar di banyak negara.

"Masyarakat akan berjuang untuk tumbuh dengan lebih sedikit pekerja dan pembayar pajak," kata Stein Emil Vollset, seorang profesor di Institute for Health Metrics dan Evaluasi (IHME) di University of Washington, seperti dikutip dari laman Phys.org, Rabu (15/7/2020).

Jumlah orang usia kerja di China misalnya, akan turun drastis dari sekitar 950 juta saat ini menjadi hanya lebih dari 350 juta pada akhir abad ini, atau turun sekitar 62 persen. Penurunan di India diproyeksikan menjadi kurang curam, dari 762 juta menjadi 578 juta.

Para peneliti memperkirakan di Nigeria, tenaga kerja aktif akan berkembang dari 86 juta hari ini menjadi lebih dari 450 juta pada tahun 2100. Pergeseran ini juga akan mengubah susunan urutan dalam hal pengaruh ekonomi.

Dunia Multipolar Baru 

Para peneliti memperkirakan pada 2050, produk domestik bruto (PDB) China akan menyusul Amerika Serikat, tetapi kembali ke tempat kedua pada tahun 2100. Sementara, PDB India akan naik untuk mengambil tempat nomor tiga. Jepang, Jerman, Prancis dan Inggris akan tetap di antara 10 ekonomi terbesar di dunia.

Brasil diproyeksikan turun dari peringkat kedelapan hari ini menjadi urutan ke-13, dan Rusia dari posisi nomor 10 ke peringkat 14. Sementara itu, kekuatan historis Italia dan Spanyol, masing-masing turun dari peringkat 15 ke-25 dan ke-28.

Indonesia bisa menjadi ekonomi terbesar ke-12 secara global, sementara Nigeria (saat ini ke-28) diproyeksikan masuk 10 besar.

"Pada akhir abad ini, dunia akan menjadi multipolar, dengan India, Nigeria, China, dan Amerika Serikat sebagai kekuatan dominan," kata Richard Horton, yang menggambarkan penelitian tersebut sebagai garis besar ‘pergeseran radikal dalam kekuatan geopolitik.’

Sampai sekarang, PBB —yang masing-masing memperkirakan 8,5 miliar, 9,7 miliar, dan 10,9 miliar orang pada tahun 2030, 2050, dan 2100— telah memiliki monopoli dalam memproyeksikan populasi global.
Murray menjelaskan perbedaan antara angka PBB dan IHME sangat bergantung pada tingkat kesuburan. Apa yang disebut "angka penggantian" untuk populasi yang stabil adalah 2,1 kelahiran per perempuan. Perhitungan PBB mengasumsikan bahwa negara-negara dengan kesuburan rendah hari ini akan melihat angka-angka itu meningkat, rata-rata, menjadi sekitar 1,8 anak per perempuan seiring waktu.

"Analisis kami menunjukkan bahwa ketika perempuan menjadi lebih berpendidikan dan memiliki akses ke layanan kesehatan reproduksi, mereka memilih untuk memiliki rata-rata kurang dari 1,5 anak," jelasnya.

Dia menambahkan pertumbuhan populasi global yang berkelanjutan selama abad ini bukan lagi lintasan yang paling mungkin bagi populasi dunia.

Pada Juli 2019, Pew Research Center mengungkapkan bahwa pada tahun 2100 China yang telah menjadi negara terpadat sejak 1950-an, akan dikalahkan oleh India dengan menempati peringkat kedua populasi dunia.

China mengalami penurunan populasi secara bertahap. Hal ini terkait dengan peningkatan standar hidup dan pendidikan di negara itu. Sementara di masa depan kita akan terus menyaksikan pertumbuhan dari negara-negara Asia, PBB memproyeksikan tingkat pertumbuhan mereka akan melambat seiring waktu.

Menurut riset itu, empat negara di peringkat 2020 --Meksiko, Brasil, Bangladesh, dan Rusia-- akan mengalami tingkat pertumbuhan yang lebih lambat atau diperkirakan akan mengalami penurunan populasi selama beberapa dekade mendatang.

Sementara itu, yang terjadi adalah sebaliknya dalam kasus Afrika di mana pertumbuhan populasi semakin cepat. Karena proyeksi percepatan pertumbuhan negara-negara Afrika, lima di antaranya - Nigeria, Kongo, Ethiopia, Tanzania, dan Mesir - akan mendominasi daftar 2.100.

Indonesia Posisi ke 7

Empat negara Asia --India, Cina, Pakistan, dan Indonesia-- akan tetap berada di daftar sepuluh besar, meskipun posisi mereka di peringkat akan diubah. Sementara itu, AS adalah satu-satunya negara dari Amerika yang akan ada dalam daftar.

Eropa, di sisi lain, terus turun dalam representasi dalam daftar sepuluh besar, dengan empat negara dalam daftar kembali pada 1950-an, turun menjadi hanya satu tahun ini, dan semakin menurun ke tidak ada pada tahun 2100.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi dunia studi ekonomi
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top