Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Opsi Sewa Lahan Komersial Potensial di Masa Pandemi

Menjual lahan besar komersial di masa pandemi tentu sulit, selain karena tidak banyak perusahaan yang bisa ekspansi, juga karena harganya yang terus terkoreksi. Knight Frank merekomendasikan pemilik lahan untuk menyewakan lahan agar lebih menguntungkan.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 05 Juli 2020  |  16:55 WIB
Seorag pria menelepon dengan latar belakang gedung perkantoran di kawasan bisnis terpadu Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta. -  Antara Foto/Andika Wahyu.
Seorag pria menelepon dengan latar belakang gedung perkantoran di kawasan bisnis terpadu Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta. - Antara Foto/Andika Wahyu.

Bisnis.com, JAKARTA – Menjual lahan komersial berukuran besar di masa pandemi seperti saat ini tentu sulit, selain karena tidak banyak perusahaan yang bisa ekspansi, juga karena harganya yang terus terkoreksi. Knight Frank merekomendasikan pemilik lahan untuk menyewakan lahan agar lebih menguntungkan.

Senior Associate Director Commercial Knight Frank Indonesia Christianto Budiman, mengatakan bahwa sepanjang kuartal I/2020, pertumbuhan perekonomian terhambat akibat wabah virus Corona dari perkiraan di atas 5 persen menjadi 3 persen. Dengan kondisi yang belum pasti, kontraksinya diperkirakan akan makin dalam.

Akibatnya, banyak industri yang jua harus memutar otak agar bisa tetap bertahan di tengah kondisi krisis ini, salah satunya properti. Menurut Chris, upaya-upaya di bisnis properti kini tak bisa disamakan dengan saat sebelum Corona menyerang.

Properti juga tak melulu soal rumah atau gedung, tapi juga lahan kosong. Chris menyebutkan ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan untuk menyesuaikan diri di masa new normal.

“Opsi untuk lahan kosong itu antara lain bisa dijual, disewakan, atau dibangun ruko baru kemudian disewakan,” ungkapnya kepada Bisnis, Jumat (3/7/2020).

Namun, opsi menjual lahan saat ini menurutnya kurang menarik. Hal ini melihat tingginya pasok lahan komersial di tengah permintaan yang menurun dan membuat harganya terkoreksi cukup besar. Apabila dijual, pemilik lahan komersial tak akan mendapat keuntungan maksimal.

“Kenaikan harga tanah masih terjadi selama lima tahun terakhir, tapi di pandemi ada sedikit tekanan yang sudah membuat beberapa landlord menurunkan asking price secara signifikan. Sehingga, kalau ditanya strategi, bagi pemilik lahan sekarang malah jangan dulu dijual,” katanya.

Di sisi lain, ada kesempatan besar terbuka lebar dari opsi sewa lahan komersial, terutama untuk penyewaan lahan komersial berukuran besar dan untuk jangka panjang.

“Kalau kita sewa jangka panjang, 15-20 tahun landlord akan dapat income yang stabil dan tidak perlu pusing untuk perbaruan kontrak,” imbuhnya.

Penyewaan lahan saat ini, jelas Chris, banyak dapat permintaan dari perusahaan bahan bakar, dan makanan minuman. “Dua industri tersebut menjadi vital saat ini, karena walaupun ada pembatasan sosial orang tetap butuh bahan bakar untuk mobilitas dan makan minum.”

Berdasarkan riset Knight Frank, pada 2019 di Jakarta terdapat 30 lahan diakuisisi untuk membangun pom bensin, kemudian naik menjadi 40 lokasi pada 2019 dan 70 lokasi pada 2020 dari yang seharusnya smencapai 90 lokasi.

Sementara itu, untuk sewa lahan dari industri makanan dan minuman di Jakarta pada 2018 ada 15 lokasi, 2019 20 lokasi, dan 2020 40 lokasi.

“Hanya kekurangannya untuk sewa jangka panjang, landlord tidak bisa dikelola untuk tujuan lain. Jadi ketika penyewa mau menyewakan ke pihak lain keputusan ada di penyewa,” tambahnya.

Kemudian, opsi selanjutnya adalah dibangun ruko untuk kemudian disewakan. Menurut Chris, opsi ini bisa dilakukan selama punya kemampuan untuk membangun, hanya saja kurang tepat dilakukan di masa krisis sepert saat ini.

“Ruko itu supply-nya banyak, sementara sekarang orang juga menahan diri untuk buka toko atau kantor baru. Kemudian kalau disewakan rukonya, nilai sewanya juga tidak bersih karena ada biaya-biaya perawatan lainnya,” jelasnya.

Syarifah Syaukat, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, menambahkan, di Jakarta masih ada cukup banyak lahan-lahan komersial yang potensial untuk menyerap permintaan ekspansi dari perusahaan bahan bakar, makanan, dan minuman.

“Lokasi paling potensial di antaranya adalah di area pusat bisnis (CBD), dekat permukiman atau perkantoran. Karena penduduk atau orang yang bekerja di sekitarnya pasti perlu layanan-layanan tersebut,” ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lahan industri keira knightley Sewa Lahan
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top