Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Impor APD Melonjak, APF: Serapan Bahan Baku Lokal Tetap Tinggi

PT Asia Pacific Fibers Tbk. (APF) menyatakan serapan produksi bahan baku alat pelindung diri (APD) perseroan tetap tinggi walaupun volume impor APD melonjak secara tahunan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 03 Juli 2020  |  10:40 WIB
Pabrik serat stapel memiliki kapasitas tahunan 195.000 MT dan terdiri dari 9 jalur pemintalan langsung, 1 jalur ekstruder, dan 8 jalur serat.  - Asia Pacific Fibers
Pabrik serat stapel memiliki kapasitas tahunan 195.000 MT dan terdiri dari 9 jalur pemintalan langsung, 1 jalur ekstruder, dan 8 jalur serat. - Asia Pacific Fibers

Bisnis.com, JAKARTA - PT Asia Pacific Fibers Tbk. (APF) menyatakan serapan produksi bahan baku alat pelindung diri (APD) perseroan tetap tinggi walaupun volume impor APD melonjak secara tahunan.

Head of Corporate Communication APF Prama Yudha Amdan mengatakan pihaknya memproduksi bahan baku untuk produksi masker medis, pakaian pelindung medis, dan pakaian bedah berbasis knit polyester. Adapun, pihaknya memask bahan baku untuk APD lokal yang bernaung dalam merek dagang INA United.

"Kami mengembangkan produk [bahan baku] APD ini untuk kontribusi terhadap negara. Melihat tren yang ada saat ini, kami berharap negara juga bisa menyerap APD [dari bahan baku APF yang sudah kita peroduksi. Ini baik untuk kedaulatan kita sendiri," katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Prama menyatakan sampai saat ini APD yang dibuat dari bahan baku perseroan masih diserap langsung oleh pemerintah daerah maupun pengelola rumah sakit. Dengan kata lain, Kementerian Kesehatan belum menyerap APD lokal atau masih menggunakan APD impor.

Hal tersebut terlihat tidak sesuai degnan keputusan yang dihasilkan dalam rapat antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, produsen, dan perwakilan WHO di Indonesia. Adapun, hasil rapat tersebut memutuskan bahwa syarat APD yang harus digunakan tenaga medis bukan berdasarkan bahan baku, namun berdasarkan uji penetrasi darah dan air.

Prama menyatakan dirinya mewakili APF dalam pertemuan tersebut. Adapun APF baru menyelesaikan pengembangan bahan baku APD pada paruh kedua April 2020.

Saat ini, APF dapat memproduksi bahan baku knit polyester untuk tiga jenis APD yakni masker medis, pakaian pelindung medis, dan jubah bedah. Sementara itu, Prama menyampaikan pihaknya saat ini sedang dalam tahap purwarupa dalam produksi bahan baku masker N95.

Prama mendata pihaknya dapat memproduksi bahan baku untuk 400.000 unit pakaian pelindung medis per bulan dan 900.000 jubah bedah per bulan. "Kami masih dalam tahap finalisasi [bahan baku] masker N95, untuk kapasistas masker masih belum bisa didefinisikan."

Walaupun Kementerian Kesehatan belum menyerap APD lokal, Prama menilai hal tersebut sebagai berkah yang tersamarkan. Pasalnya, permintaan APD di dalam maupun di luar negeri tetap tinggi.

Menurutnya, hingga saat ini sudah ada beberapa produsen garmen asing yang mencoba untuk menyerap bahan baku APD besutan APF. Pasalnya, knit polyester yang diproduksi APF memiliki karakteristik polyester dan telah lulus uji pentrasi darah dan air.

Adapun, lulus uji tersebut dibuktikan dengan kepemilikan sertifikat ANSI/AAMI PB70:2012, ASTM F1670-2017, dan ASTM F1671-2013. Uji ini merupakan tahapan lanjutan setelah lolos dari pengujian penetrasi dan tekanan air sebagai prasyarat mutlak APD untuk penanganan Covid-19.

"Kalau memang bahan bakunya tidak layak, pemda [pemerintah daerah] Jawa Tengah dan Jawa Timur pakai bahan baku kami. Makanya, gap [pemahaman antara Kemenkes dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19] ini yang harus diselesaikan," ucapnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apd pt asia pacific fibers tbk New Normal Normal Baru
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top