Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IMF: Pandemi Covid-19 Global Telan Biaya Ekonomi US$12,5 Triliun

Pandemi Covid-19 diperkirakan menelan biaya ekonomi global sebesar US$12,5 triliun hingga akhir tahun depan, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 25 Juni 2020  |  06:36 WIB
Loading the player ...
Gita Gopinath, Chief Economist IMF, menjelaskan dampak pandemi COvid/19 bagi ekonomi global. Video: Youtube IMF

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 diperkirakan menelan biaya ekonomi global sebesar US$12,5 triliun hingga akhir tahun depan, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).

Menurut laporan IMF dalam buku World Economic Outlook, kerugian ekonomi itu terjadi karena penurunan pertumbuhan ekonomi dunia yang di luar perkiraan sebelumnya meski tingkatannya tidak merata.

“Pandemi ini berupa "krisis yang tidak sama dengan krisis lain," kontraksi dalam ekonomi global akan jauh lebih buruk daripada yang diperkirakan sebelumnya, dan pemulihannya "tidak pasti," menurut IMF seperti dikutip ArabNews.com, Kamis (25/6/2020).

Dampak Pandemi Covid-19 berupa biaya ekonomi US$12 triliun dipaparkan oleh Gita Gopinath, Chief Economist IMF, dalam konferensi pers IMF. Simak voideonya dari Youtube IMF di atas.

Produk domestik bruto global diperkirakan turun 4,9 persen tahun ini akibat apa yang disebut IMF sebagai "Penguncian Besar."

Sementara itu pertumbuhan akan melonjak tahun depan sebesar 5,4 persen, tetapi kepala ekonom IMF, Gita Gopinath, memperingatkan: "Dengan tidak adanya solusi medis, kekuatan pemulihan sangat tidak pasti dan dampak pada sektor dan negara tidak merata."

Ada beberapa negara yang akan sangat terpukul secara spektakuler menurut perkiraan IMF.
Ekonomi Italia, akan mengalami kontraksi sebesar 12,8 persen, sama dengan Spanyol, dan Prancis akan berada di bawahnya dengan penurunan 12,5 persen. Sedangkan ekonomi Inggris akan menyusut 10,8 persen.

Ekonomi AS diprediksi berkontraksi sebesar delapan persen, sementara itu China, tempat virus korona pertama kali terdeteksi, akan tumbuh sebesar satu persen ketika langkah-langkah awal melawan wabah mulai berlaku.

Timur Tengah dan Asia Tengah akan melambat 4,7 persen. Arab Saudi akan mengalami kontraksi 6,8 persen tahun ini sebelum pulih dengan pertumbuhan 3,1 persen pada 2021, menurut perkiraan IMF.

Kerajaan itu dipengaruhi oleh volatilitas di pasar energi global dan jatuhnya harga minyak pada April. IMF memperkirakan harga rata-rata US$36,20 per barel untuk minyak tahun ini atau di bawah harga pasar saat ini. Harga komoditi itu diperkirakan US$37,50 pada tahun 2021, atau jauh lebih rendah dari perkiraan banyak pakar minyak.

IMF mengatakan langkah-langkah penanggulangan dampak ekonomi di seluruh dunia telah membatasi kerusakan ekonomi dan memperkuat pasar keuangan.

"Penanggulangan sektor fiskal dan keuangan yang cukup besar yang diambil beberapa negara sejak awal krisis telah mencegah kerugian jangka pendek yang lebih buruk," menurut laporan itu.

Disebutkan bahwa "stabilitas di pasar minyak juga telah membantu mengangkat sentimen," dengan patokan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) "dalam kisaran yang stabil."

Akan tetapi IMF juga memperingatkan bahwa pasar keuangan dan pasar saham tidak mencerminkan pandangan ekonomi yang pesimistis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global imf covid-19
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top