Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pertumbuhan Pengguna Vape Baru Diramalkan Melambat

APVI menilai hal tersebut merupakan penyebab utilitas parikan e-liquid merosot pada semester I/2020.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 11 Juni 2020  |  15:21 WIB
Pekerja menata botol berisi cairan rokok elektrik (vape) di Jakarta, Senin (1/10/2018). - ANTARA/Dhemas Reviyanto
Pekerja menata botol berisi cairan rokok elektrik (vape) di Jakarta, Senin (1/10/2018). - ANTARA/Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Personal Vaporizer (APVI) mendata permintaan cairan vaporizer atau e-liquid menurun tajam saat pandemi Covid-19 menyerang.

APVI menilai hal tersebut merupakan penyebab utilitas parikan e-liquid merosot pada semester I/2020.

Sekretaris Umum APVI Garindra Kartasasmita mengatakan kapasitas produksi pada semester I/2020 anjlok hingga 70 persen. Menurutnya, hal tersebut akan berlanjut pada semester II/2020 dan membuat target produksi akhir 2020 hanya akan tercapai 70 persen.

"Kami optimistis [produksi pada] semester II/2020 akan jauh lebih baik dibanding semester I/2020. Akan tetapi, bila untuk menutupi kekurangan [produksi] pada semester I/2020 saya rasa belum bisa," katanya kepada Bisnis, Kamis (11/6/2020).

Garindra mendata permintaan e-liquid di pasar saat ini turun hingga 40 persen. Namun demikian, Pihaknya menilai data tersebut bukan berarti penyusutan pasar, namun perlambatan pertumbuhan produksi.

Hal tersebut dianggap wajar, mengingat mayoritas konsumen kini lebih mementingkan langkah-langkah untuk tidak mengidap dari Covid-19. Dengan demikian, menurutnya, pertumbuhan pengguna baru pada tahun ini diramalkan tumbuh negatif atau melambat.

Walaupun secara agregat permintaan e-liquid turun, Garindra menyampaikan ada sedikit peningkatan serapan e-liquid di daerah. Namun demikian, peningkatan serapan tersebut menjadi tidak signfikan lantaran daya beli konsumen saat ini yang lemah.

"Banyak sekali masyarakat yang pulang ke kampungnya masing-masing akibat PHK [pemutusan hubungan kerja] ataupun dirumahkan," ucapnya.

Garindara berujar pihaknya akan mengarahkan parikan untuk menata kembali strategi produksi masing-masing pabrikan. Selain itu, dia menyatakan asosiasi akan mempersiapkan platform-platform yang dapat menjadi solusi jika pandemi kembali menyerang nantinya.

Di sisi lain, Garindra mengamati adanya peruahan perilaku konsumen dalam mengonsumsi e-liquid. Menurutnya, saat ini konsumen e-liquid mulai melakukan pembelian secara digital dalam rangka melakukan pembatasan sosial.

APVI pada awal tahun menargetkan produksi e-liquid pada akhir 2020 akan tumbuh sekitar 25 persen. Adapun, produksi e-liquid pada akhir 2019 tumbuh sekitar 100 persen menjadi sekitar 40 juta botol.

Dengan kata lain, pihaknya menargetkan total produksi e-liquid pada tahun ini akan mencapai sekitar 50 juta botol dengan pembayaran cukai lebih dari Rp1 triliun.

Secara komposisi, lanjutnya, cairan vape tersebut tetap didominasi oleh cairan basis bebas (free base) yakni sekitar 60 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan tengah 2019 yakni di level 50 persen.

Seperti diketahui, cairan vape dibagi menjadi dua jenis yakni free base dan nikotin garam. Cairan vape free base memiliki kadar nikotin sekitar 3Mg--12Mg, sedangkan nikotin garam sekitar 20Mg—50Mg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rokok elektrik Industri Vape
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top