Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Volume Angkutan Barang via Laut Bisa Terus Menanjak di Tengah Pandemi Covid-19

Faktor intervensi kebijakan kesehatan dan intervensi interaksi sosial seperti PSBB Covid-19 serta pembukaan kegiatan bertahap dengan pola new normal jelas akan mendorong kenaikan permintaan angkutan barang lewat laut.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  07:55 WIB
Kapal Logistik Nusantara 4 yang melayani tol laut menurunkan kontainer muatannya saat bersandar di dermaga Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (28/6/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone
Kapal Logistik Nusantara 4 yang melayani tol laut menurunkan kontainer muatannya saat bersandar di dermaga Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (28/6/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - Volume angkutan laut pada kuartal II/2020 diprediksi berfluktuatif, seiring dengan ketidakpastian status pandemi Covid-19 di Tanah Air.

Dalam hal ini, faktor intervensi kebijakan kesehatan dan intervensi interaksi sosial seperti PSBB serta pembukaan kegiatan bertahap dengan pola new normal jelas akan mendorong kenaikan permintaan angkutan barang lewat laut.

Volume angkutan kargo laut pada kuartal I/2020 meningkat 3,23 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2019, tetapi secara bulan ke bulan pada April terjadi penurunan volume 2,31 persen menjadi 24,91 juta ton dari capaian Maret 25,49 juta ton.

Pakar Kemaritiman ITS Saut Gurning mengatakan peningkatan atau level positif kuartal I/2020 diakibatkan oleh bantalan kontrak perdagangan dan pengangkutan barang dalam negeri yang dilakukan pada beberapa bulan akhir atau kuartal III/2019 yang tetap memberikan ruang muat bagi operator logistik dan pelayaran serta volume throughput dari berbagai pelabuhan domestik, khususunya pada komoditas pokok yaitu bahan pangan, pakan, dan bahan bakar.

"Namun, penurunan yang dimulai pada periode Maret dan April tahun ini jelas diakibatkan oleh permintaan angkutan lewat laut [sea-borne trade] yang dipengaruhi oleh berkurangnya intensitas ekonomi akibat disrupsi baik suplai maupun permintaan akibat pembatasan interaksi antarpulau, kegiatan industri serta aktivitas masyarakat secara individual yang berdampak pada tergerusnya volume konsumsi masyarakat secara domestik," jelasnya kepada Bisnis, Rabu (3/6/2020).

Kendati ada penurunan, terangnya, angkanya sebenarnya masih relatif lebih kecil dari pesimisme umum dunia pelayaran dan pelabuhan Indonesia yang memperkirakan penurunan hingga mendekati angka dua digit.

Dia memproyeksi pada kuartal II/2020, volume kargo logistik melalui laut cenderung fluktuatif, seiring dengan ketidakpastian status pandemik di dalam negeri. Menurutnya, pembukaan kegiatan bertahap dengan pola new normal akan mendorong kenaikan permintaan angkutan barang lewat laut, terutama dengan mulai membaiknya tingkat konsumsi masyarakat, industri, dunia usaha, dan pemerintah secara domestik.

Di sisi lain, menggeliatnya kegiatan pembukaan ekonomi di sekitar Indonesia khususnya sejumlah negara di Asia Timur seperti China, Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, dan Taiwan juga akan menjadi pendorong motif dan realisasi aktivitas perdagangan internasional Indonesia. Khususnya, berbagai komoditas importasi bahan modal industri ke Indonesia serta potensi ekspor dalam negeri berbasis sumber daya alam Indonesia.

Dia mencontohkan sektor perikanan dan kargo bahan mentah lainnya seperti batu bara dan bahan tambang lainnya, termasuk potensi kenaikan permintaan CPO ke berbagai negara-negara konsumen utama Indonesia baik India maupun negara Asia Timur di atas.

"Jika dua variabel ini secara faktual berpotensi menaik, yaitu  volume konsumsi termasuk potensi perdagangan internasional, maka industri pelayaran, pelabuhan dan maritim nasional seharusnya tetap optimistis. Bahkan seharusnya bersiap diri untuk mengadaptasi bahkan potensi kenaikan tiba-tiba hingga potensi kongesti yang bisa saja terjadi di wilayah domestik Indonesia," paparnya.

Saut mengatakan gejala kongesti sedang terjadi di sejumlah lokasi pelabuhan utama Asia Timur seperti di Shanghai, Busan dan pelabuhan utama lainnya yang mengalami gejala kongesti dalam periode Maret-Mei 2020 ini.

Gejala ini menunjukkan adanya indikasi titik balik, baik trafik kargo dan trafik kapal yang tidak hanya meningkat dari aras inbound ke wilayah mereka yang mulai membuka keran perdangangan internasional di wilayahnya. Namun, juga orientasi ke luar (out-bound) armada pelayaran mereka ke luar negeri.

"Jadi kalau hal di atas secara umum didorong secara utama oleh pelonggaran aktivitas sosial dan ekonomi sebagai dampaknya yang mendorong penguatan perdagangan dan angkutan lewat laut."

Selain itu, imbuhnya, ada faktor lain yang punya potensi mendorong semakin kuatnya intensitas perdagangan maritim tersebut, yaitu menurun drastisnya bahan bakar dunia termasuk biaya bahan bakar armada pelayaran dunia, kendati besaran penurunan biaya harga BBM kapal tersebut belum seimbang dengan tingginya biaya operasi akibat ketidakseimbangan kargo yang diangkut.

"Jadi secara umum, saya optimis akan terjadi kondisi balik, walau mungkin cenderung fluktuatif, sebanding dengan ketidakpastian kondisi dan penanganan pandemik Covid-19 ini," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logistik Angkutan Barang Tol Laut
Editor : Nurbaiti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top