Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

UMKM Wajib Ikuti Perubahan Pola Perilaku Konsumen

Salah satu penyebab menurunnya penjualan UMKM karena terjadinya perubahan pola perilaku konsumsi pasar terhadap konsumen.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  21:09 WIB
Ketua Kelompok Penenun Eboon Lombok Tengah selaku pembina pelatihan Mariani Merdjun (kanan) mendampingi warga penghuni rumah susun saat kegiatan pelatihan menenun motif ikon Jakarta di Rumah Susun Jatinegara Barat, Jakarta, Rabu (6/11). - BISNIS.COM
Ketua Kelompok Penenun Eboon Lombok Tengah selaku pembina pelatihan Mariani Merdjun (kanan) mendampingi warga penghuni rumah susun saat kegiatan pelatihan menenun motif ikon Jakarta di Rumah Susun Jatinegara Barat, Jakarta, Rabu (6/11). - BISNIS.COM

Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Pengembangan UKM dan Koperasi Bappenas, Ahmad Dading Gunadi menyebukan salah satu penyebab menurunnya penjualan UMKM karena terjadinya perubahan pola perilaku konsumsi pasar terhadap konsumen.

"Dampak Covid-19 [mempengaruhi pola perilaku konsumen] terhadap perubahan pasar UMKM jadi aktivitas berkurang. Masyarakat banyak dirumah sehingga [umkm] harus ganti model dengan sistem delivery dengan langsung ke konsumen tidak lagi berkumpul di suatu tempat," katanya lewat diskusi daring, Rabu (3/6/2020).

Menurutnya, UMKM tidak perlu goyah karena pola konsumsi berubah. Dia menyebutkan selalu ada peluang dari tiap perubahan, salah satunya dengan mengubah model bisnis, seperti beralih ke daring

“Jadi harus melihat peluang pasar ada pergerakan UMKM yang meningkat di barang pokok terkait dengan makanan frozen, makanan kering itu yang meningkat atau yang delivery langsung itu yang jelas akan meningkat," ujarnya.

Dia mengatakan bahwa hampir seluruh penjualan dilakukan UMKM mengalami penurunan. Hal ini tercermin jika melihat dari survei dilakukan oleh Asosiasi Business Development Sevices Indonesia (ABDSI).

"ABDSI melakukan survei terhadap 6.000 UMKM di Indonesia jadi kita mau lihat tadi hampir semua penjualannya menurun malah tidak ada yang bisa menjualkan," ucapnya.

Dia menyebutkan bahwa dari total 6.000 responden atau UMKM yang menurun untuk melakukan aktivitas bisnis hingga lebih dari 60 persen mencapai 26,6 persen.

Sementara itu, UMKM yang tidak dapat melakukan penjualan selama pandemi Covid-19 mencapai 36,7 persen. Adapun 15,0 persen UMKM mengalami penurunan penjualan sekitar 31 sampai dengan 60 persen dari total responden, sedangkan penjualan yang menurun dari 10 persen sampai 30 persen tercatat 14,2 persen saja.

“[Data] ini juga [menjelaskan umkm] masih ada peluang meskipun indeks konsumen menurun tapi masih di atas 1 persen sehingga ini ada peluang untuk tetap melihat pasar yang sangat segmented," jelasnya.

Di samping itu survei juga mencatat UMKM mengalami masalah pada ketersediaan bahan baku dan pembayaran kredit.

"UMKM mengalami masalah pada ketersediaan bahan baku dan pembayaran kredit karena tadi ada sebagian bahan baku UMKM itu diperoleh dari impor karena negara-negara bersangkutan juga terkena dampak Covid-19 sehingga mereka [UMKM] mencari substitusi untuk bahan baku," lanjutnya.

Dia mengatakan bahwa salah satu langkah pemerintah untuk mengakselerasi umkm adalah melalui pemanfaaan teknologi (digitalisasi) untuk pemasaran, distribusi, dan modifikasi produk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

umkm
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top